Beranda Sosial Media Peran Santri dalam Menangkal Hoax, Gerakan Santri Anti Hoax

Peran Santri dalam Menangkal Hoax, Gerakan Santri Anti Hoax

Santri anti Hoax

Santri saat ini adalah santri yang telah dimanjakan dengan perkembangan teknologi internet. Segala informasi dan komunikasi dapat dengan mudah dilakukan tanpa dibatasi ruang dan waktu. Apalagi kepemilikan smartphone saat ini seolah telah menjadi kebutuhan primer yang menjangkiti semua lapisan umur di masyarakat.

Tercatat bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 112 juta orang, peringkat ke-6 terbanyak di dunia (eMarketer, 2017).

Cepatnya proses pertukaran informasi melalui internet didukung dengan tersedianya berbagai media sosial yang dilengkapi fitur dan konten yang unik dan menarik yang berasal dari postingan perseorangan, kelompok maupun instansi.

Ada yang diperuntukkan sebagai bahan komersil, sekedar untuk update status, bahkan untuk berbagi opini yang dikemas dalam bentuk tulisan maupun video.

Namun ternyata seiring kemudahan yang diberikan oleh berbagai media sosial untuk berbagi konten postingan baik tulisan maupun video, memicu terjadinya fenomena sosial baru di kalangan remaja indonesia kita.

Fenomena sosial tersebut tercermin jelas dengan perilaku penggunaan internet di kalangan remaja kita yang sering dihiasi dengan cacian dan makian, saling menghujat sesama manusia, saling mendeskriminasi dan menjastifikasi satu sama lain hanya lantaran ketidaksepahaman terhadap sebuah postingan berita maupun informasi tertentu yang bahkan sebenarnya belum jelas asal sumbernya.

Terlebih jika berita tersebut adalah isu nasional yang sifatnya sensitif dan melibatkan banyak kepentingan. Yang teranyar tentunya dapat kita amati dalam kontestasi politik ibukota negara kita yang dibumbuhi dengan berbagai dogma dan isu miring yang akhirnya berujung pada ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tidak lambat, hal seperti ini pun direspon dengan cepat oleh pemerintah khusunya pihak kepolisian dengan membentuk tim cybercrime yang bertugas untuk mengawasi penyebaran berita palsu atau biasa disebut Hoax.

Hoax merupakan ekses negatif kebebasan berbicara dan berpendapat di internet, khususnya media sosial dan blog.

Menyikapi fenomena tersebut, para Santri tentunya dituntut untuk berperan aktif dalam menangkal penyebaran informasi sesat yang dapat mengancam keutuhan NKRI kita.

Sebagai santri yang tentunya dibekali dengan kecerdasan intelektual, akhlakul karimah, dan kedewasaan dalam berpikir, sudah sepatutnya kita menempatkan diri kita sebagai bagian kelompok masyarakat yang menjadi filterisasi utama untuk menyelamatkan masyarakat kita dari berbagai macam informasi Hoax.

Bukan malah terjerumus dalam adu domba pihak-pihak yang tidak bertanggugjawab.

Proses filterisasi itu dapat kita mulai dengan aktif mengampanyekan gerakan anti-Hoax di media sosial dalam berbagai kegiatan kampus.

Dengan banyaknya jumlah mahasiswa yang merupakan representatif dari santri dan pemuda intelektual yang menimba pendidikan di kancah nasional maupun internasional serta keberadaan lembaga kemahasiswaan memiliki potensi besar dalam menanamkan penggunaan internet secara sehat kepada masyarakat.

Bentuk kampanye tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari pelaksanaan diskusi maupun seminar yang mengangkat topik tentang Hoax, sosialisasi tentang etika yang harus diperhatikan saat menggunakan internet, pembuatan video dokumenter, serta melaksanakan lomba kreatif sebagai langkah persuasif memunculkan kepedulian tentang maraknya isu Hoax ini.

Keyakinan bahwa keberadaan santri di setiap lapisan masyarakat baik di lembaga pendidikan, politik, agama, dan lain-lainnya menjadikan santri hendaknya sebagai contoh tauladan yang hadir di tengah masyarakat sebagai agen perubahan dalam membangun budaya berinternet yang beretika.

Lewat tulisan yang memotivasi serta ajakan lisan akan menjadi bahan pencerdasan yang baik kepada masyarakat dalam menggunakan internet.

Oleh karena itu, peningkatan kualitas diri dari para santri kita juga harus menjadi perhatian kita bersama.

Sebab upaya persuasif yang melibatkan khalayak ramai bukan sebuah perkara yang mudah. Seiring peluang menyambut bonus demografi 2020-2035, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para santri-santri dan pemuda untuk menjadikan internet sebagai ladang ilmu untuk meningkatkan kualitas diri dan jiwa kompetitif.

Kemudahan memperoleh berbagai bahan referensi bacaan ilmiah yang ditawarkan melalui internet harus mampu dimanfaatkan secara positif dengan terus memperkaya cakrawala pengetahuan para santri kita.

Godaan budaya pamer yang saat ini banyak menjangkiti para pengguna media sosial harus kita hilangkan secara perlahan.

Santri hendaknya bijak dalam menggunakan media sosial sehingga pemanfaatannya bukan hanya sekedar popularitas melainkan digunakan pula untuk membangun interaksi jejaring yang luas dengan berbagai pemuda pemudi dari sabang-merauke bahkan dengan pemuda lintas negara dalam menuntaskan berbagai persoalan global yang membutuhkan peranan dari para santri Indonesia.

Maka sebagai santri yang berdaulat dan cerminan masa depan bangsa, mari kita menyikapi penggunaan internet ini sebagai alat pencerdasan dan perekat persatuan bangsa.

Sebagai kaum intelektual dan berakhlaqul karimah, para santri harus pro aktif dalam mengampanyekan gerakan anti-Hoax dengan harapan dapat menghindarkan masyarakat dari berbagai informasi yang menyesatkan, sehingga keutuhan NKRI kita akan terus terawat dalam balutan Bhinneka Tunggal Ika.

Tulis Komentar