Home Islami Perjuangan Minoritas Muslim di Eropa

Perjuangan Minoritas Muslim di Eropa

Perjuangan Minoritas Muslim di Eropa

Fathnan.id | Pembahasan mengenai keberadaan komunitas atau organisasi sosial dalam sejarah islam di benua Eropa selalu menarik minat banyak kalangan. Selain layak diperbincangkan, tema-tema tersebut juga memberikan pengetahuan dan informasi kepada publik tentang kehidupan umat Islam di daratan Eropa.

Mengingat, referensi atau rujukan mengenai minoritas Muslim yang terlupakan sejarah masih sangat terbatas.

Selama ini, orang-orang yang memeluk Islam di sana cenderung dianggap marginal. Tak heran apabila di sana-sini ditemukan konfrontasi atau perlawanan.

Dalam taraf tertentu, langkah Ini ditempuh sebagai cara penganut Islam mempertahankan keyakinan sekaligus mengukuhkan eksistensi di tengah dahsyatnya beraneka gempuran.

Artikel pendek berikut menyajikan gambaran keadaan penduduk Pomak yang disarikan dari buku Denyut Islam di Eropa terbitan Republika.

“Selama ini, orang-orang yang memeluk agama Islam di sana cenderung dianggap marginal. Tak heran apabila di sana-sini ditemukan konfrontasi atau perlawanan.”

Larangan Kepemilikan

Sensus 1995 yang diadakan Kementerian Dalam Negeri Bulgaria mencatat keberadaan etnis Pomak sebanyak 269.781. Jumlah ini merupakan 3 persen dari seluruh populasi Bulgaria.

Mereka bermukim di beberapa distrik, lembah, dan pegunungan. Sementara sekelompok kecil lainnya bermukim di desa-desa mungil.

Di luar negeri itu, terdapat 22 ribu orang bermukim di zona militer yang menjadi kawasan Muslim.

Selama lintas generasi, mereka hidup berdampingan dengan Muslim Roma dan etnis turki.

Pada masa kekuasaan komunis, orang Pomak memilih bertahan di desa. Sistem pertanian di lokasi mukim dan lahirnya industri kecil turut meningkatkan taraf hidup.

Apa yang tersedia di hutan juga terbukti menjanjikan kesejahteraan bagi mereka. Hanya saja mereka dilarang mempunyai tanah.

Mereka hanya diperbolehkan menyewanya dari pemerintah dengan jumlah yang cukup terbatas.

Pemerintah juga menolak kepemilikan turun-temurun, warisan, tanah adat, wakaf, dan sebagainya.

Berbagai macam kepemilikan, terutama yang berhubungan dengan tanah, disita tanpa ganti rugi. Ini berarti, orang Pomak mengalami pemiskinan sistematis.

Pada tahun 1948, pemerintahan komunis memaksa penduduk Pomak untuk tinggal di desa-desa etnis Bulgaria.

Dua puluh tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1970-1973, pemerintah komunis menuntut mereka untuk segera menanggalkan nama-nama Arab.

Kebijakan ini berlanjut dengan pemberangusan lokasi ibadah. Hampir setiap masjid yang berada desa-desa Pomak sengaja dirobohkan, adapun aktivitas sekolah-sekolah keagamaan diberangus sedemikian rupa.

Maraknya Kerusuhan

Sikap represif pengasa digenapi dengan terbitnya larangan Kaum Muslim menampilkan atribut-atribut keislaman.

Para lelaki tidak diizinkan mengenakan penutup kepala ala Turki.  Sedangkan para wanita setempat tidak diperkenankan memakai kerudung.

Menerima perlakuan tak manusiawi, etnis Pomak melancarkan perlawanan. Hal ini mengakibatkan kerusuhan terjadi di hampir semua wilayah Pomak dan memakan banyak korban jiwa.

Di luar kekejaman ini, ada 550 pemuka agama Pomak ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Tragisnya, nasib mereka di balik jeruji besi tak diketahui.

Pada Tahun 1989, kerusuhan kembali meletus ketika sebagian etnis Pomak menolak pengusiran ke turki.

Pemerintah kala itu memaksa orang Pomak untuk bersedia menerima passpor dan mengangkut mereka ke ankara dengan kapal.

Pada waktu yang sama, pemerintah juga mewajibkan digantinya nama-nama Pomak dengan Bulgaria. Perlawanan sengit diwujudkan melalui dua aksi: mogok makan oleh ratusan pemuda dan mogok kerja oleh ribuan lainya.

Penderitaan yang dialami Pomak berangsur hilang saat bergantinya penguasa. Pemerintah baru mengubah seluruh peraturan yang merugikan Muslim Pomak.

Seluruh masjid yang pernah disegel akhirnya kembali dibuka dan dijadikan tempat umum. Pemerintah juga merestui orang orang Pomak menyematkan nama-nama berbahasa Arab dan Turki.

By: Rizal Multazam, Santri Langitan
Sumber gambar: www.vagabond.bg

Tulis Komentar