Beranda Pendidikan Konsep Perkembangan Emosi dan Sosial Anak

Konsep Perkembangan Emosi dan Sosial Anak

Emosi anak
Oleh: Shofiatus Sholihah

Kata Ijtihad berasal dari kata Al jahdu yang berarti daya upaya atau berusaha keras. Ijtihad berarti berusaha keras untuk mencapai atau memperoleh sesuatu. Ijtihad adalah pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit.

Mengerjakan sesuatu yang mudah atau ringan tidak bisa dikatakan ijtihad, karena tidak memerlukan usaha keras. Jadi ijtihad tidak sama artinya dengan berpikir bebas. Ijtihad mempunyai tujuan tertentu, serta mempunyai alasan untuk memperkuat hasil temuannya.

Dalam istilah Fiqih, Ijtihad berarti berusaha keras untuk mengetahui hukum sesuatu melalui dall-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Sedangkan orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid. Para mujtahid dalam melakukan ijtihadnya tentu harus didukung dengan kemampuan ilmu dan keluhuran sikap, sehingga hukum yang ditemukan benar-benar tepat dan obyektif.

MACAM-MACAM IJTIHAD

Ada beberapa macam ijtihad yang patut diketahui. Beberapa macam ijtihad yang dimaksud antara lain:
1). Ijma
Ijma adalah salah satu jenis ijtihad yang dilakukan para ulama dengan cara berunding, berdiskusi, lalu akhirnya muncul suatu kesepakatan untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
Keputusan bersama ini tentu saja tidak begitu saja dilakukan, semua harus bersumber pada Al-Qur’an dan juga hadits.
Hasil dari ijtihad ini sering kita sebut sebagai fatwa, dan fatwa inilah yang sebaiknya diikuti oleh umat islam.
Kesepakatan dari para ulama ini tentu saja merupakan hasil akhir dari berbagai diskusi yang telah dilakukan, sehingga semestinya tidak mengandung pertentangan lagi.
2). Qiyas
Salah satu macam ijtihad adalah Qiyas, yaitu upaca mencari solusi permasalahan dengan cara mencari persamaan antara masalah yang sedang dihadapi dengan yang ada di dalam sumber agama (Al-Qur’an dan Hadits).
Bila masalah yang sedang dihadapi dianggap mirip dengan yang ada di dalam kitab suci maupun hadits, maka para ulama akan menggunakan hukum yang ada di dalam sumber agama tersebut untuk menyelesaikan masalah.
Namun tidak mudah pula mencari kemiripan satu masalah yang terjadi jaman sekarang dengan yang terjadi pada masa lalu.
Di sinilah sebenarnya kenapa seorang mujtahid atau yang melakukan ijtihad diperlukan memiliki keluasan pengetahuan tentang agama dan masalah-masalah lain yang terkait dengannya.
3). Istihsan
Istihsan adalah salah satu macam ijtihad yang dilakukan oleh pemuka agama untuk mencegah terjadinya kemudharatan.
Ijtihad ini dilakukan dengan mengeluarkan suatu argumen beserta fakta yang mendukung tentang suatu permasalahan dan kemudian ia menetapkan hukum dari permasalahan tersebut.
Dalam penetapan hukum ini bisa jadi pada akhirnya akan memunculkan pertentangan dari yang tidak sepaham.
4). Istishab
Upaya untuk menyelesaikan suatu masalah yang dilakukan para pemuka agama dengan cara menetapkan hukum dari masalah tersebut.
Namun, bila suatu hari nanti ada alasan yang sangat kuat untuk mengubah ketetapan tersebut, maka hukum yang semula ditetapkan bisa diganti, asalkan semuanya masih dalam koridor agama islam yang benar.
5). Maslahah mursalah
Salah satu dari macam ijtihad yang juga dilakukan untuk kepentingan umat adalah maslahah mursalah.
Jenis ijtihad ini dilakukan dengan cara memutuskan permasalahan melalui berbagai pertimbangan yang menyangkut kepentingan umat.
Hal yang paling penting adalah menghindari hal negatif dan berbuat baik penuh manfaat.
Urf
Ijtihad ini dilakukan untuk mencari solusi atas permasalahan yang berhubungan dengan adat istiadat. Dalam kehidupan masyarakat, adat istiadat memang tak bisa dilepaskan dan sudah melekat dengan masyarakat kita.
Ijtihad iniah yang menetapkan apakah adat tersebut boleh dilakukan atau tidak. Apabila masih dalam koridor agama islam, maka boleh dilaksanakan. Namun bila tidak sesuai dengan ajaran islam, maka harus ditinggalkan.

SYARAT-SYARAT MUJTAHID

Syarat-syarat yang harus dimiliki seoarang mujtahid adalah orang yang mampu melakukan ijtihad melalui cara istinbath (mengeluarkan hukum dari sumber hukum syari’at dan tathbiqh / penerapan hukum):
Dr. Yusuf Qardlawi mengemukakan syarat-syarat mujtahid yang sudah di sepakati oleh para ulama sebagai berikut:
1. Menguasai al-Qur’an dan ilmianya (ulumul Qur’an)
2. Menguasai al-Hadits dan ilmianya (ulumul Hadits)
3. Menguasai bahasa Arab
4. Menguasai Ushul Fiqih
5. Memahami sejarah
6. Mengetahui tema-tema yang sudah di-ijma’
7. Mengenal manusia, alam, dan lingkungannya.
8. Mempunyai sifat adil dan taqwa
Kemudian ada beberapa ulama yang menambahkan syarat-syarat  tersebut di atas, antara lain:
1. Mengetahui ilmu Ushuluddin
2. Mengetahui ilmu Manthiq (Logika)
3. Mengetahui cabang-cabang fiqih
Ilmu-ilmu tersebut samgat penting untuk upaya menetapkan upaya menetapkan suatu hukum tertentu.
Bahkan dalam menerjemahkan sesuatu ayat atau hadits saja bisa menjadi kacau karena kurangnya kemampuan dan pengetahuan. Oleh sebab itu dengan penguasaan ilmu-ilmu tersebut di atas, kesalahan bisa terhindari.

HUKUM-HUKUM IJTIHAD

Ulama berpendapat bahwa jika seseorang muslim dihadapkan pada suatu peristiwa,atau ditanya tentang suatu peristiwa, atau ditanya tentang suatu masalah yang berkaitan dengan hukum syara’, maka hukum ijtihad bagi orang tersebut bisa wajib ‘ain, wajib kifayah,sunah, atau haram, tergantung pula kapasitas orang tersebut.
Pertama, bagi seorang muslim yang memenuhi kriteria mujtahid yang diminta fatwa hukum atas suatu peristiwa yang terjadi, tetapi ia menghawatir peristiwa itu akan hilang begitu saja tanpa kepastian hukumnya, atau ia sendiri yang mengalami peristiwa yang tidak jelas hukumnya dalam nash, maka hukum ijtihadnya menjadi wajib ‘ain.
Kedua, bagi seorang muslim yang memenuhi kriteria mujtahid yang diminta fatwa hukum atas suatu peristiwa yang terjadi, tetapi ia mengkhawatirkan peristiwa itu hilang dan selain dia masih ada mujtahid lainnya, maka hukum ijtihadnya menjadi wajib kifayah.
Ketiga, hukum ijtihad menjadi sunnah jika dilakukan atas persoalan-persoalan yang tidak ada atau belum terjadi.
Keempat, hukum ijtihad menjadi haram dilakukan atas perstiwa-peristiwa yang sudah jelas hukumnya secara qathi’, baik dalam Al-Qur’an maupun al-sunnah atau ijtihad yang hukumnya telah ditetapkan secara kesepakatan ijma.
Sumber Refrensi:
  • Abdullah, Amin. 1997, filsafat Kalam di Era Post Modernisme, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
  • Siswanto, Ali Hasan. 2010, Pengntar Studi Islam, Surabaya : Kopertais IV Press.
  • Thoha, As’ad, dkk. 2013, Pendidikan Aswaja Dan Ke-NU-An, Sidoarjo : Al Maktabah – PW LP Ma’arif NU Jatim 2013.

Tulis Komentar