Beranda Cerita Pernikahan Bukanlah Pembuktian Cinta

Pernikahan Bukanlah Pembuktian Cinta

Pernikahan bukanlah pembuktian cinta

Kasmudi kembali menyambar rokok saya. Entah ini kali yang keberapa. Dari tadi nyambung-nyambung melulu, baik pertanyaannya maupun ngududnya.

“Saya sebenarnya sudah tidak jomblo, Kang. Saya punya pacar. Cantik. Akhir-akhir ini malah dia minta segera saya nikahi. Saya sih oke-oke saja. Tetapi, ya … Saya merasa belum siap untuk menjadi suami yang baik.

Saya kadang berpikir, apakah cinta harus selalu diidentikkan dengan pernikahan? Pacar saya selalu meragukan cinta saya, hanya karena tidak segera menikahinya. Saya kan masih santri, masih pengin ngalap ilmu lebih banyak lagi.”

“Aku tidak tahu seberapa cantik pacarmu, dan aku juga tidak mau tahu. Tetapi aku yakin, jika memang dia cantik menurut orang banyak, dia pasti buta bisa jatuh cinta padamu.”

“Namanya cinta, tidak bisa diukur dari penampilan fisik, Kang. Banyak, kan, yang lebih jelek dari saya dapat istri yang lebih cantik dari pacar saya? Dalam hal ini, menurut saya, pacar saya sudah benar. Dan harusnya, dia juga harus berpikir, bahwa cinta itu tidak semestinya diukur dengan menikah.”

Kasmudi ada benarnya.

Entah siapa yang kali pertama memprovokasi, dosanya besar sekali pasti. Banyak yang bilang, bukti cinta adalah pernikahan. Kalau cowok tidak berani ngelamar ke orang tua si cewek, pasti si cowoknya cuma main-main doang. Tidak betulan cinta.

“Sejauh yang aku ketahui, cinta adalah sesuatu, dan pernikahan itu sesuatu yang lain. Sama sekali berbeda. Banyak sekali orang yang saling mencinta, tetapi tidak menikah. Ada yang sudah menjadi sepasang suami istri, tetapi tidak saling mencintai.”

Ini harus saya katakan. Dan harusnya bukan hanya kepada Kasmudi, tetapi kepada semua orang, khususnya para wanita. Karena pasti banyak sekali laki-laki yang mengalami penderitaan, lantaran cintanya dianggap palsu oleh kekasihnya.

Saya ingin sekali berpidato di hadapan orang banyak dan berkata, “Siapa pun Anda, apalagi yang sudah menikah, berhentilah mengompori gadis-gadis untuk merendahkan martabatnya, mengemis-ngemis minta dinikah.

Dan kita sebagai laki-laki, selain harus menjaga diri dari perbuatan yang melanggar norma-norma, jangan kemudian menurut begitu saja, bak kerbau yang dicocok hidungnya. Hanya bermodal tidak punya malu, lalu menggondol anak orang.

Mari kita tunaikan dengan baik segala persiapan, baru kemudian menuju gerbang pernikahan, agar tidak terlalu banyak sampah manusia yang semakin menurun kualitasnya.”

Pernikahan itu bukan main-main. Suami wajib menafkahi istrinya lahir batin. Lah, kalau yang rokok saja masih njoin, koreknya dapet minjem nggak dibalikin, lalu menjalin pernikahan, mau dikasih makan apa istrinya? Memangnya cinta bisa membuat kenyang?

“Pernikahan bukanlah bukti dari cinta. Kamu tahu, mengapa dalam Islam ada poligami? Karena, ketika itu, ada orang yang hendak menikahi perempuan yatim yang banyak hartanya.

Ia tidak cinta. Ia hanya ingin menikahi untuk bisa mendapat hartanya. Lalu turunlah ayat tentang poligami (poligini), ‘Maka jika kamu khawatir tidak bisa berlaku adil pada wanita-wanita yatim, (karena kamu hanya mengharapkan harta mereka, dan bukan karena mencintai mereka, maka jangan nikahi mereka).

Menikahlah saja dengan apa (yakni wanita) yang kamu cintai, dua, tiga, atau empat. Dan kalau kamu menduga tidak mampu berbuat adil (jika berpoligami) maka menikahlah dengan seorang wanita saja.’ (Q.S. Al-Nisā’: 3) Begitulah kira-kira.”

Tetapi sebaiknya, kita tidak perlu bermain dalil. Karena sejatinya, dalil hanyalah karet yang bisa kita tarik ulur ke mana saja kita mau. Dan cinta tidak butuh dalil. Kecuali cinta-cinta karet. Sana-sini lengket.

Muhammad Nuchid

Tulis Komentar