Pintar Bukan Jaminan Oleh Anas Khoirudin

  • Whatsapp
Pintar

Tidak sedikit orang yang mengatakan kalau pintar adalah segalanya. Dan segalanya butuh kepintaran. Untuk lulus sekolah saja, sebagian besar juga beranggapan pintar dulu. Padahal, jika dikaji lebih mendalam lagi, pintar bukanlah segalanya.

Kenyataannya, jika terjun langsung dilapangan, kepintaran seseorang juga tidak terlalu laku dalam artia terbatas. Memang begitu pandangan masyarakat luar sana. Pintar tanpa sekill dan keahlian juga sama saja. Bagaikan cangkul kalau tanpa garan juga tidak berguna untuk menggali tanah atau untuk membuat galengan disawah.

Muat Lebih

Padahal, orang pintar bisa saja kesasar. Sebagai contoh, tidak banyak orang yang hanya berbekal pintar berubah menjadi keminther, dan keminther merupakan langkah menuju keblinger. Jika sudah keblinger, wallohu a’lam.

Entah apa jadinya, kita tinggal menunggu saja. Suatu saat nanti ada timbal balik sendiri. sebagai ibarat. Murid yang memintari guru, menganggap hal yang di ajarkan guru salah dengan prespektif dan yang mereka ketahui.

Sehingga dia berani menyalahkan guru. Dan secara tidak langsung kita ketahui, guru merasa tersakiti. Alhasil, tidak menutupi kemungkinan kalau guru akan bendu. Dan jika guru sudah bendu kepada kita, jangan harap ilmu kita bemanfaat dan barokah.

Anggapan lain, kalau pintar segalanya adalah, bahwa keberhasilan seseorang itu sepenuhnya dilatar belakangi oleh pintar. Sebab mereka yang memakan bangku sekolah menganggap kalau ijazah adalah prioritas yang utama.

Alasanya, untuk dijadikan tangga menggapai keinginan dan cita-cita. Maka tak jarang, untuk menghasilkan ijazah yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Mereka-mereka menginginkan sekolah yang berbayar mahal.

Agar hidupnya mapan, dan mudah mencari kerjaan. Padahal harapan awal dari orang tua menyekolahkan anaknya bukan untuk menjadi pintar. Melainkan untuk mengerti. Belum tentu orang pintar, itu mengerti.

Ya, begitulah jadinya jika intlektual tanpa adanya sepiritual. Botseh (abot siseh) alias berat sebelah. Menjadi orang pintar sejujurnya tidak apa-apa, toh juga tidak ada yang memarahi. Bahkan itu adalah karunia tuhan kepada kita.

Namun, jika pintar-pintar dalam segi intlektualitas saja tidak cukup. Perlu adanya spiritualitas yang menjadi penyeimbang. Sebagai contoh perlu adab budi pekerti atau tatakrama, agar tidak menjadi orang pintar yang keblinger.

Selain itu, perlu di detailkan lebih mendalam lagi, yang menyebabkan seseorang sukses itu sepenuhnya bukan dari ijazah dari sekolah ternama. Melainkan memang begitulah garis dari lauh mahfudz. Kita sekarang mapan, kita sekarang terwujud apa yang menjadi keinginan dan cita-cita tergapai.

Beranggapan kalau inilah hasil sekolahku, inilah hasil dari kepintaranku, inilah hasil nilai baik ujianku, inilah hasil dari ijazahku. Dan sama sekali tidak mengigat sama sekali siapa yang membuat kita mapan, siapa yang membuat kita pintar, dan siapa yang menyebabkan kita berhasil seperti sekarang ini.

Kalau bukan memang Tuhan yang maha esa berkehendak sedemikian rupa. Kita belum tentu tahu dengan apa yang kita terpa besok lusa. Jangan bangga dulu.

Tidak menutupi kemungkinan yang menganggap dengan ijazahnya, saat ini menjadi bisa direktur, besok lusa turun pangkat menjadi tukang cukur. Tidak menutupi kemungkinan sekarang menjadi orang agung, besok lusa menjadi pemulung.

Kita tidak tahu dengan apa yang kita hadapi besok. Maka dari itu pintarmu bukan penentu suksesmu. Bahkan, belum juga sampai taraf anggapan kalau pintar dan bangku sekolahan yang mahal itu segalanya. Banyak orang, yang sudah diberi tahu dulu kalau berhasil itu bukan karena ijazah, bukan karena pintar dan bukan karena bangku sekolahan yang mahal.

Buktinya 16 tahun  bergelut dengan buku, berambisi dengan teori, menganggap pintar sebagai modal utama. Coba bayangkan 6 tahun memakan bangku SD. 3 tahun melahap bangku SMP. 3 tahun Menganggap sudah bisa dengan bangku SMA.

Lalu belum cukup lagi, ditambah 4 tahun mati-matian mendapatkan title dan dianggap sebagai sarjana. Dan ia beranggapan dengan bermodal pintar yang akan menjadi jaminan masa depan. Ujung-ujungnya tidak ada yang terkabul semua keinginannya.

Ya, begitulah hasilnya jika mengandalkan pintar, dan teori-teori saja. Tanpa harus ada mengerti, dan tanpa ada sekil yang harus dikuasai. Tentunya juga tanpa harus ada doa dan usaha, yang bisa merubah takdir ini.

Mereka beranggapan langsung, kalu aku pinter besok bisa menjadi dokter, mereka menganggap kalau aku tau teori besok aku akan menjadi pejabat negeri, kalau aku bersekolah mahal, aku akan menjadi orang terkenal. Faktanya tidak sedemikian rupa, justru banyak yang kenyataanya sebaliknya dengan anggapan sedemikian rupa.

Jadi, kita pintar boleh. bahkan pintar itu terkadang juga perlu. Akan tetapi, keberhasilan dan sukses itu bukan karena pintar. Namun, kesuksesan juga karena faktor pintar. Pintar bermanfaat bagi dirikita dan orang lain itu baik. Namun, jika pintar kalau untuk memintari orang lain lah yang tidak baik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *