Beranda Feature Roto, Potret Kemiskinan di Pinggiran Tuban

Roto, Potret Kemiskinan di Pinggiran Tuban

Mmbah Roto
M Fajri Khasin, Radar Tuban

32 Tahun Tinggal Bersama Kambing

Kehidupan Roto, 50, menggambarkan potret kemiskinan di pinggiran perkotaan Tuban. Pria tersebut tinggal sebatang kara di Lingkungan Widengan RT 04, RW 11, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Tuban.


M. FAJRI KHASIN-MG, Tuban, Radar Tuban


CUKUP mudah menemukan rumah Roto. Tempat tinggalnya hanya berjarak sekitar 50 meter dari Jalan Manunggal. Posisinya di timur jalan nasional Tuban—Babat itu.

Rumah tersebut jauh dari kata layak. Ukurannya pun hanya 5 x 7 meter (m). Kondisinya menyerupai kandang. Karena banyaknya lubang di genting dan dinding sesek, tempat tinggal tersebut tak mampu melindungi dari terik matahari kala siang. Begitu juga ketika malam.

Angin pun menembus lubang-lubang dinding rumah peninggalan kedua orang tuanya itu. ‘’Setiap harinya saya ditemani dua kambing ,’’ ucapnya menunjuk bagian barat rumahnya. Kandang dan rumah tersebut seatap dan hanya dipisah dengan dinding sesek tipis.

Kehidupan sehari-hari Roto hanya diisi dengan memelihara dua kambingnya. Mulai mencarikan rumput hingga merawat.

Ya, hasil beternak kambing adalah satu-satunya sumber penghasilan pria tersebut untuk menyambung hidup. Selebihnya menunggu uluran tangan dan belas kasihan tetangganya. Kondisi tersebut berlangsung bertahun-tahun.

Roto hidup sebatang kara setelah Kasipah, ibunya meninggal sejak 2012 silam. Hingga usia 50 tahun, dia belum menikah. Dalam kondisi hidup serbakekurangan, Roto memiliki kelainan sejak lahir. Di punggungnya tubuh benjolan yang tidak diketahui penyebabnya.

Benjolan tersebut diperparah dengan luka di punggung bawah akibat terkilir ketika bekerja sebagai kuli bangunan. Sejak itu, pria berkulit sawo matang tersebut berhenti menjadi kuli bangunan.

Kondisi Roto diperparah dengan asam urat yang menyerang lutut kanannya. Nyaris tak pernah tersentuh pengobatan. Pria sebatang kara itu mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan apa pun dari pemerintah daerah dan pusat. Biaya berobat ke mantri kesehatan pun atas sumbangan saudara dan tetangganya. ‘’Untuk jalan saja saya susah, harus dibantu pakai tongkat yang saya buat dari ranting kayu,’’ kata dia.

Sanaji, ayah Roto meninggal saat dia berusia lima bulan. Meninggalnya tulang punggung keluarga membuat bungsu dari lima bersaudara itu tidak pernah sedikit pun mengenyam bangku sekolah.

Sejak balita, Roto bertahan hidup dengan kerja serabutan. Mulai berjualan gorengan, buruh tani, dan kuli bangunan. ‘’Saya berhenti kerja kuli bangunan setelah tertimpa musibah, punggung terkilir dan tidak bisa kembali normal,’’ kata dia sambil menunjukkan luka di punggungnya.

Sejak itu, Roto muda mulai mengumpulkan sisa-sisa pendapatannya untuk membeli dua ekor kambing pada 1987. Sejak itu, dia tinggal serumah dengan dua kambingnya tersebut.

Hasil beternak kambing tersebut dijual untuk menyambung hidup.
Tarmisah, kakak perempuan Roto menambahkan, Roto tidak pernah mendapat bantuan apa pun dari pemerintah. Baik Kartu Indonesia Sehat (KIS), Program Keluarga Harapan (PKH), atau semacamnya.

Bantuan terakhir yang diterima hanya sembako sekitar 2012. Menurut dia, beberapa kali keluarganya mengajukan bantuan melalui ketua RT dan kelurahan, namun tanpa hasil. ‘’Nyatanya memang tidak pernah mendapat bantuan apa pun,’’ ungkap dia.
Ketua RT 04/RW 11, Lingkungan Widengan, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding Natres membenarkan Roto tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Dia mengaku sudah beberapa kali mengusulkan Roto untuk mendapatkan bantuan melalui kelurahan, namun tak pernah berhasil. Artikel terbit di Radar Tuban, cet 01/12/2019.(sin/yud/ds)

Tulis Komentar