Puisi Santri Nasionalis | Amuk Kalbu, Rindu Makna Ideologi Indonesiaku

  • Whatsapp
Santri Nasionalis

Untuk mereka-mereka yang mengatakan negeri  ini negeri syurga
Yang hanya memandang dari sisi kekayaan semata

Juga untuk mereka-mereka yang berjubah emas berkain sutra

Muat Lebih

Yang gemar mencari nama

Serta jabatan yang menjadi ladang bisnis semata

  Memang, kami bukan kaum idealis

Lebih-lebih kami kaum pemimpin yang pancasialis

Bukan,, bukan,, kami hanyalah manusia biasa dengan jabatan rakyat jelata

Yang ingin bicara

Dari amukan gemuruh hati kecil kami yang menggebu membara

Lihat, pancasila, kini hanya menjadi ideologi semata

Juga gedung DPR malah menjadi sarang tikus

Mencuri demi kapitalisme dengan mulus

Meja meja rapat menjadi ranjang bagi mereka-mereka  wakil rakyat

Lihatlah…..

Sesuatu hal yang paling menyedihkan

dari keadilan di negeri ini

hanya menjadi tontonan

Dimana keadilan hanya dijanjankan

 Pada pemilik mobil mobil mewah di pinggir jalan

Layaknya  pedagang asongan

Dan Ketika rakyat menyakan dimana keadilan

Mereka-mereka hanya berani  sembunyi dibalik tirai istana kenegaraan

Dengan gigi mengigil ketakutan

Dan dijaga oleh anjing anjing bertopi miring disogok kegerlapan

ketika semua orang bertanya tanya kesana kemari menanyakan kembali

“Dimana keadilan”

Yang datang dengan hati teriris

Oleh mereka-mereka yang berbaju tulus berhati bengis

Pahit getir mereka terima untuk sebuah jawaban

Ternyata nyatanya kenyataan

Keadilan hanyalah tontonan

Tanpa realisasi dan hanya bayang kenistaan

Sedangkan  mereka yang selalu terpesona oleh jabatan

Hanya duduk santai seolah tanpa masalah dan beban

Sedangkan mereka yang mencari kepastian

Tanpa lelah di hempas oleh palsunya kenyataan

Pula  tanpa henti mereka berteriak “kami dan kami”

Walaupun yang berdasi rapi tidak ada yang perduli

Dan merekapun bersajak

Dan merekapun berteriak

Dengan hati gemuruh

Amuk  amarah mewakili dari semua kesah nun keluh

Kami kehausan

Kami kelaparan

Mengapa tidak ada satupun mata pemerintah

Yang menoleh kepada suara lirih yang diperintah

Telinga mereka tuli Seakan-akan

Tersumbat tertutup rapat oleh kursi  jabatan

Jika kau ingat

Lantunan lantunan kampanye

Yang masih terngian di telinga mereka

Mengundang airmata

Menimbulkan tanda tanya

Dalam hati berkata kata

“apakah mereka hanya mengobral kata”

“atau mereka hanya belajar berkata-kata”

Tetapi….

Semua itu masih tetap menjadi tanda tanya

Dan saksikanlah

Negeri yang selalu mereka nyanyikan dengan hormat

Bangsa yang selalu mereka puja puja dengan khidmat

Terkhianati oleh nafsu  manusia pribumi sendiri

Terbunuh budaya oleh penerus generasi

Terubah oleh demokrasi

Terpuruk dalam mimpi fiksi

Mau dikata apa oleh ibu pertiwi

Mau menjawab apa pada leluhur

Bangsa dan negara yang ia dirikan

Kian lama terkikis oleh peradaban

Tercecer berantakan

Dibuat oleh anaknya

Yang salingcakar cakaran

Jegal menjegal merebutkan kedudukan

Menempatkan diri di posisi kebenaran

Dan muslihat tipu daya yang sok mencari kemaslakhatan

Sebenarnya jiwa kami mengeluh

Menjerit putus asa

Apa arti rupa tanpa isi

Rupa harus sempurna

Tetapi isi yang terutama

Tetapi sudahlah

Ini bukan demonstrasi

Juga bukan pula emosi

Ini hanyalah sebuah puisi

Yang mewakili

Yang hidup tapi sesungguhnya mati

Kami hanya ingin kau terbangun

Terbang kembali

tebarkan keadilan dan kesejahteraan

keserasian kemakmuran bahagia bersama merata

yang gemah ripah loh jinawi

pusaka tanah air beta

negeri yang tata tentrem karta raharja

mari bersama junjung menjunjung perubahan dibangun

sing-singkan lengan keatas

bersama rawe-rawe rantas malang malang puntas

kami tidak ingin pancasila hanya menjadi

ideologi yang terpampang dan bahan tontonan

disetiap dinding dinding kelas

bahkan dinding istana kenegaraan

kami tidak ingin kau hanya menjadi

cerita dan dongeng semata

kami ingin kau selalu hidup di hati rakyat

sepanjang masa

Dan direalisasikan maknanya

Disetiap saat kacamata nyata sepanjang masa

Karya Adrian Yunan Pratama
Santri Ponpes Darissulaimaniyyah- Kamulan-Durenan-Trenggalek
Dapat Anda hubungi di aku facebook:Adrian Yunan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *