Beranda Pendidikan Rahasia Buruk Dibalik Kekenyangan

Rahasia Buruk Dibalik Kekenyangan

Rahasia Buruk Dibalik Kekenyangan

Rahasia Buruk Dibalik Kekenyangan | Makan, merupakan suatu kebutuhan pokok manusiawi yang tidak bisa, atau jarang lepas dari kehidupan Kita sehari-hari.

Makan juga merupakan kebutuhan pokok yang berguna sebagai penumbuh sekaligus penambah daya pikuatan atau kekuatan manusia untuk beraktivitas.

Selain itu, makan juga pendorong sekaligus penyeimbang yang berkaitan dengan kesehatan seseorang.

Namun, jika seseorang memakan makanan yang kurang menyehatkan, maka disitu akan menyebabkan tumbuhnya suatu hal yang berkaitan dengan penyakit.

Maka dari itu, dalam ilmu kedokteran, menganjurkan untuk memakan makan empat sehat lima sempurna, misalnya.

Selain kita dianjurkan untuk memakan makanan yang kaya akan kandungan protein, zat besi, vitamin dan yang lain sebagainya. Satu hal lagi yang harus kita perhatikan adalah pola makan Kita.

Banyak diantara kita semua yang tidak bisa mengontrol sekaligus mengendalikan pola makan. Hingga pada akhirnya kesehatan Kita terganggu.

Salah satu hal yang sering Kita lakukan, ataupun Kita temui pada diri sendiri dan orang lain adalah makan yang sampai mengakibatkan kita kekenyangan.

Jika hanya kenyang saja itu menurut umumnya manusia bisa dikatakan wajar. Namun, jika kekenyangan yang seharusnya tidak kita wajari.

Baca Juga: Lembah Manah Dan Proses Berumah Tangga

Sebab, didalam makan Kita yang terlalu kenyang (kekenyangan) bisa saja menyebabkan timbulnya suatu penyakit yang datang dengan perlahan.

Dalam kajian religius, makan terlalu kenyang bisa menyebabkan tumbuhnya rasa malas.

Nah, rasa malas tersebutlah yang dapat kita rasionalkan dengan matinya anggota badan.

Karena enggan untuk bergerak. Atau bahasa gaulnya sering kita sebut dengan istilah “mager”.

Selain itu, makan terlalu kenyang atau kekenyangan tadi, juga bisa mematikan hati.

Lho Kok bisa ya? Mungkin pertanyaan yang tersebit dalam pikiran Anda begitu.

Jadi agar lebih mudah untuk dipahami, kita kiaskan saja dengan padi dan obat.

Hati disini ibarat padi, jika terlalu banyak dijejali oleh obat yang Kita gambarkan dengan makanan, maka padi tersebut tidak tambah subur tetapi lama kelamaan akan mati.

Jadi, dapat kita tarik kesimpulan, jika padi kebanyakan obat lama kelamaan akan mati, berarti disitu jika makan terlalu banyak juga akan menyebabkan hati kita mati.

Maka dari itu, banyak orang yang jika di tuturi bagus untuk berbuat kebaikan itu akan mental dan tidak masuk sama sekali.

Bahkan bisa saja memeberontak dan menyalahkan orang lain benar-benar baik. Hal tersebut disebabkan karena hatinya keras.

Selain dituturi bagus mental, orang yang sudah keras hatinya tidak akan merasa. Tidak merasa kalau hatinya telah tertutupi dengan bebalnya hawa nafsu dan syahwat dunia.

Ia tidak merasa kecewa dengan dirinya sendiri jika berbuat nista dan keji. Ia tidak menyesali perbuatanya yang melanggar atauran-aturan.

Seakan-akan tidak ada apa-apa dan biasa-biasa saja. Itu karena hatinya mati dan tidak bisa merasakan.

Dalam artian, ia tidak bisa merasaka dirinya sendiri atau mengetahui dirinya sendiri kalau hatinya keras atau bahkan mati dan tertutupi.

Maka dari itulah ia berbuat nista, berbuat jelek, berbuat buruk, dan hanya merasa biasa-biasa dan baik-baik saja. Padahal pada sejatinya, orang tersebut hatinya sedang keras.

Dan kerasnya hati merupakan tanda dari matinya hati. Adapun asal dari penyebanya, salah satu darinya adalah makan yang terlalu kenyang atau kekeyangan tadi.

Perlu di ingat tentang hati. Hati merupakan sutu perkara yang menjadi core atau inti dari manusia hidup.

Jika hatinya baik, maka kemungkinan yang tercermin dalam hidup nyata orang tersebut juga baik.

Namun jika hati orang tersebut itu jelek, hatinya keras, atau bahkan hatinya telah mati. Maka kemungkinan besar orang tersebut kelakuanya juga jelek.

Maka, dalam kacamata lebar, orang tersebut bertingkah ngawur dan melanggar hukum-hukum atau had yang menjadi ketentuan agama atau undang-undang negara.

Maka hati yang sudah mati tersebut tertutupi oleh tutup. Dan usaha yang kita lakukan untuk membuka hati yang tertutup tadi adalah, mengurangi makan. Puasa lebih baik.

Jika tidak bisa berusahalah makan tidak kekenyangan. Karena, kekenyangan bisa merusak kesehatan. Baik kesehatan dzahir maupun batin.

Semoga bermanfaat. Dan semoga kita bukan orang-orang yang merugi akibat kekenyangan.[]

Referensi => Ihya’ Ulumuddin juz 3

Tulis Komentar