Beranda Cerita Cerita Keren Saat Masuk di Pondok Pesantren

Cerita Keren Saat Masuk di Pondok Pesantren

Saat Masuk di Pondok Pesantren

Hari ini aku berangkat ke Pondok Pesantren Tarbiyatut Thullab Semarang, diantar oleh Ibu dan Farah. Pesantren ini adalah tempat dulu Ayah mondok. Pesantren ini sudah berusia satu abad lebih, alumninya sudah banyak yang menjadi kiai dan punya pesantren sendiri-sendiri.

Pesantren ini sudah tidak lagi seperti yang Ayah ceritakan, bangunannya sudah bukan lagi dari panggungpanggung kayu jati dan bambu, tapi sudah berupa gedung tembok bertingkat. Deretan asrama berjajar-jajar.

Ubin-ubin kotak berwarna putih kecoklatan. Kitab-kitab kuning tertata rapi di lemari, dan beberapa lainnya berantakan.

Pakaian-pakaian cementel di jemuran, di pagar, di pohon, di jendela, dan hampir di setiap tempat ada Kamar mandi yang pesing dan kekuning-kuningan khas pesantren dan dari belakang asrama mengepul asap kehitaman yang menempel di dinding dapur.

“Kiai, titip Amir ya? Mohon bimbingannya!” kata Ibuku pada Kiai Mansyur.

“Tapi ada satu syarat,” jawab Kiai Mansyur.

“Apa Kiai?

“Amir tidak boleh pulang”

Kurasakan kenyamanan dan kesejukan yang berbeda, yang belum pernah sekalipun kurasakan selama hidup ini.

“Yang krasan ya, Nak? Kalau ada apa-apa ngomong saja sama Kiai Mansyur. Nanti kalau uangmu habis, telpon Ibu saja! Ini ke depan sedikit ada wartel.”

“Nggeh2, Bu,” jawabku lirih. Dan untuk pertama kalinya juga aku mencium punggung tangan kanannya.

Aku sama sekali tidak sedih seperti teman-temanku yang menangis ketika ayah ibunya pulang.

Aku ingin menangis karena Ayah Ibuku tidak bisa mengantarku. Tapi aku bahagia ibu tiriku berkenan mengantarkanku.

Ibu yang tidak pernah melahirkanku, ibu yang selama ini kubenci, ternyata ia sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri.

Aku sangat bahagia, di saat aku tak mempunyai ibu dan ayah, dia menjadi ibu dan ayahku saat ini.

Aku bangga padanya. Mendadak butir air mata menetes dari ujung mataku. Aku teringat betapa baiknya dia padaku.

Menyiapkan semua kebutuhanku, menyiapkan sarapan pagi, mencuci pakaian, menyapu rumah dan halaman, membuatkanku susu panas saat tubuhku menggigil, memijitku saat kecapaian, dan
banyak lagi yang dilakukannya tapi tidak pernah kuhargai.

Aku lebih mendengar perkataan teman-temanku bahwa ibu tiri itu jahat. Aku terbawa sehingga aku selalu sinis dengannya, aku selalu cuek, banyak diamnya, dan kuanggap dia benar-benar tidak ada.

Tapi ternyata ia adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku.

***

Azan Maghrib berkumandang, semua santri bersiap-siap untuk berjamaah. Beberapa dari mereka sudah dari tadi berada di musala sebelum azan, ada yang sibuk membaca Alquran, ada yang sedang menghafal nazam ‘imrithi, ada yang menghafal nazam alfiyah, sehingga yang terdengar dari musala seperti brengengengnya kumbang yang sedang bertasbih.

Ada yang masih saling kejar-kejaran dan saling lempar kopyah. Ada yang lagi menunggu antrian untuk kencing.

Tempat wudhu yang berbentuk kolah besar, dirubung ratusan santri seperti laron yang merubung lampu ketika musim hujan.

Ada yang sedang beratengkar gara-gara rebutan menata sandal Kiai Mansyur. Ada pula yang dari tadi
sudah menunggu kedatangan Kiai dan berebut untuk bersalaman.

Aku bertanya pada santri yang lebih senior dariku, “Emang kalau salaman harus gitu ya? Dibolak-balik tangannya pak Kiai.”

“Itu sudah menjadi kebiasaan turun temurun sejak dulu di lingkungan pesantren.”

“Memang tujuannya apa?”

“Tujuannya adalah untuk ngalap berkah.”

***

Usai salat Isya, para santri tidak diperbolehkan untuk kembali ke kamar, karena keamanan pondok, Kang Anam, akan membacakan peraturan-peraturan yang ada di Pondok Pesantren Tarbiyatut Thullab ini.

Peraturan yang dibacakan sangat banyak, hingga aku tak dapat mengingatnya kecuali sedikit. Tapi setelah membacakan peraturan-peraturan itu, dia akan menempelnya di papan pengumuman.

Setelah itu, Kiai Mansyur berdiri di depan kami dan menyampaikan beberapa mauidzoh. Suaranya serak, tapi masih terdengar jelas.

“Sebenarnya peraturan itu tak perlu. Sebenarnya saya kurang setuju dengan adanya peraturan. Kenapa? Karena peraturan hanyalah akan mengekang seseorang.

Saya takut, jika peraturan-peraturan itu mengekang, nanti anak-anak ini jika keluar dari Pondok akan merasa keluar dari penjara, seperti burung yang keluar dari sarangnya.

Tapi itu hanya menurut pemikiran saya. Saya tidak bisa memaksakan. Saya sangat menghargai hasil Musyawarah.

Dan keputusannya adalah ditetakannya peraturan itu. Dan lakukanlah semua itu dengan ikhlas. Jangan melakukan kebaikan karena adanya peraturan, lakukanlah dengan kesadaran, agar kalian
tidak merasa diberatkan oleh peraturan-peraturan yang begitu banyak.”

Setelah itu para santri disuruh untuk beristirahat agar bisa bangun tahajjud dengan fresh. Beberapa santri baru menangis teringat dengan keluarga dan kampung halamannya, beberapa yang lain sudah saling kenal dan bermain kejar-kejaran, ada juga yang dengan mudah langsung tidur.

Tapi aku tidak bisa tidur, padahal jam sudah menunjuk pukul 12 malam. aku paling tidak bisa tidur jika banyak nyamuk.

Meskipun begitu aku tidak pernah marah sama nyamuk. Ayah sering mengajarkanku mengingat Tuhan lewat nyamuk.

“Mir.”

“Iya, Yah.”

“Kamu tau nyamuk?”

“Ya tau lah, Yah. Nyamuk itu makhluk yang paling menjengkelkan menurutku. Nyamuk selalu mengganggu tidurku.”

“Tapi ada hal penting yang harus kamu tau dari
nyamuk.”

“Apa itu, Yah?”

“Nyamuk adalah serangga kecil, bersayap, bersisik, seta berparuh panjang yang digunakannya untuk menusuk.

Ada sekitar dua ribu lima ratus jenis nyamuk. Nyamuk itu berkembang biak sangat cepat dan jumlahnya banyak sekali.

Nyamuk itu kawinnya di udara dan bertelur di air yang tergenang. Nyamuk betina membutuhkan darah mamaia untuk mengembangkan telurnya, sedang nyamuk jantan yang biasanya lebih kecil dari nyamuk dewasa betina, tidak mengisap darah, tapi makan getah tumbuhan.

Nyamuk juga dapat menularkan macam-macam penyakit, antara lain demam berdarah dan malaria. “Mata nyamuk itu bisa melihat dengan jelas di kegelapan, sehingga dia bisa dengan mudah menemukan mangsanya.

Makanya, meskipun lampu kita matikan, nyamuk masih bisa melihat dan menggigit kita.

Nyamuk itu selalu membawa enam pisau ke mana-mana, yang pisaunya itu serupa gergaji yang menggergaji kulit sambil mengeluarkan cairan pada luka yang berfungsi seperti bius sehingga sering kali yang digigit tidak menyadari bahwa darahnya telah diisap.

Baca ini juga: Jatuh Cinta Saat Ngaji TPQ

Cairan itu mencegah pembekuan darah sehingga proses pengisapan dapat berlanjut. Sungguh luar biasa.

“Nyamuk juga bisa dikatakan gajah mini, karena bentuknya mirip seperti gajah. Tapi nyamuk lebih hebat.

Gajah hanya memiliki satu belalai, empat kaki, dan satu ekor. Sementara nyamuk kakinya enam, belalai nyamuk sangat tajam sampai bisa menembus kulit yang tebal dan menerobos hingga ke kedalaman, lalu mengisap darah sekaligus menyemburkan kuman dan virus penyakit.

Nyamuk bisa membunuh kerbau dan semacamnya dengan belalainya itu. Nyamuk bisa hinggap di tubuh manusia, mencari pori-pori di mana keringat keluar, lalu menancapkan belalainya.

Nyamuk adalah binatang yang sangat rakus, dia itu kalau sudah ngisap, nggak berhentiberhenti, sampai kekenyangan dan mati.

“Nyamuk itu, meskipun kecil, tapi Allah memberinya anugerah untuk dapat hidup seperti yang dikehendaki Allah.

Kepala bagian depannya dianugerahi kemampuan untuk tahu apa yang perlu diketahuinya, di kepala bagian belakangnya diberi alat untuk berhubungan seks.

Ada juga alat untuk membuang kotorannya. Untungnya nyamuk itu hidupnya tidak lama. Kalau nyamuk diberi umur seperti manusia, wah… bisa penuh sesak dengan nyamuk dunia ini, karena berkembang biaknya cepat sekali.

“Tapi nyamuk itu keren. Nyamuk itu diistimewakan oleh Allah dan diabadikan dalam Alquran. Allah itu gak malu membuat perumpamaan nyamuk.

Seperti yang tertera dalam surat al-Baqarah ayat dua enam. Pasti ada hikmah di balik nyamuk. Itu pabrik obat nyamuk, dapat uangnya juga dari nyamuk.

“Syekh Zamakhsyari itu sampai menggubah syair tentang nyamuk saat menafsirkan al-Baqarah dua enam itu.

Katanya, ‘Di malam gulita yang penuh kegelapan, Dan yang melihat aliran darah di pangkal dadanya, Serta otak pada tulang-tulang lemah yang kecil itu, Anugerahilah aku taubat, yang dapat menghapus dosa yang telah kulakukan sejak dahulu.’

Syekh Zamakhsyari sampai berpesan agar kalimat-kalimat itu ditulis pada nisan kuburannya.

“Pokoknya kalau orang benar-benar mau berpikir tentang nyamuk, ia akan melihat Tuhan pada Nyamuk.”

Aku terharu mengingatnya. “Au,” teriakku, seekor nyamuk menciumku. Aku tersenyum melihatnya, tapi tanganku sudah terlanjur menamparnya hingga ia tewas.

***

Pagi ini adalah pertama kali aku masuk sekolah di Tsanawiyah Tarbiyatut Thullab. Kelas yang kutempati cukup luas, cat temboknya berwarna hijau.

Mereka bilang warna hijau bisa menyehatkan mata dan mencerdaskan otak. Di kelas ini terdiri dari 35 anak, dan aku duduk di bangku paling belakang.

Meskipun begitu aku tidak ingin menjadi yang paling belakang. Di antara teman-teman, aku yang
paling aktif dalam kelas, aku selalu bertanya setiap pelajaran, sehingga tak ada satu pun guru yang tidak mengenalku, dan aku memang tidak mau ada satu guru pun yang tidak mengenalku.

Bagiku yang paling utama dalam belajar adalah keterikatan batin antara guru dan murid.

Bagaimana mungkin seseorang ada hubungan batin tanpa adanya perkenalan. Meskipun begitu, aku juga sering tidur saat pelajaran berlangsung.

Dan tak jarang juga aku bolos pada pelajaran yang tidak kusuka. Aku sangat senang ketika guru menegurku saat aku tidur.

Aku sangat senang ketika guru mencariku saat aku bolos. Berarti mereka perhatian. Aku paling tidak suka dengan guru yang menggunakan kekerasan dalam mengajar.

Aku juga paling tidak suka dengan guru yang melecehkan muridnya. Baik secara psikologis maupun fisik.

Seorang guru pernah memukulku dengan sapu saat aku tidak mengerjakan PR, tentu saja aku tidak terima, aku pukul dia dengan tanganku sendiri hingga gusinya berdarah.

Seorang guru pernah meludahiku saat aku terlambat masuk, tentu saja aku tidak terima, kubalas dia dengan kuludahi juga.

Seorang guru pernah mengatakan “Goblok” padaku, hanya gara-gara aku salah menjawab soal, tentu saja aku tak terima, aku merasa harga diriku diinjakinjak, aku balas guru itu dengan makian yang lebih pedas.

Kepala sekolah Mts. Tarbiyatut Tullab, memanggilku karena tindakanku yang dianggap kurang ajar. Aku tak takut sama sekali.

Kudatangi dengan percaya diri. Di dalam kantor, ternyata kepala sekolah tidak sendirian, semua guru berada di situ.

Aku duduk di tengah-tengah puluhan guru.

“Amir, apa kamu tidak pernah diajari orangtuamu sopan santun?” tanya seorang guru yang pernah kupukul hingga gusinya berdarah.

“Mir, kamu itu lahir dari perut binatang ya? Kok sifatmu seperti binatang?” tanya seorang guru yang pernah kuludahi karena dia meludahiku.

“Kamu itu tidak pantas sekolah di sini. Kamu itu pantasnya sekolah di bawah jembatan. Kamu itu bukan anak manusia, kamu itu anak iblis,” kata satunya lagi, yang pernah kumaki karena mengataiku.

Sementara kepala sekolah masih diam dan tak berkata sedikitpun. Saat itu darahku sudah memuncak, tanganku sudah mengepal sangat erat, tapi aku mencoba untuk menahan emosiku.

Kutarik napas panjang, lalu dengan nada rendah kujawab pertanyaan mereka satu-satu.

“Yang pertama, saya sudah tidak memiliki orangtua. Ibu saya meninggal saat melahirkan saya. Dan ayah saya meninggal sebelum saya mondok di sini.

Waktu masih hidup, ayah saya selalu mengajarkan tata krama yang baik, meskipun sekarang ayah sudah meninggal, saya masih selalu mengingat-ingat apa yang ayah ajarkan.

Saya anak yatim, tapi saya bukan anak yatim yang lemah, saya bukan anak yatim yang rela untuk diinjak-injak harga diri saya, meskipun sama bapak-bapak yang ada di sini.

“Yang kedua, orangtuaku bukan binatang, saya terlahir dari seorang ibu yang menjadi kekasih Tuhan. Ibu saya meninggal ketika melahirkan saya. Dan wanita yang meninggal saat melahirkan anaknya, meninggal dalam keadaan syahid.

Maka saya sarankan bapak untuk hati-hati, jangan sampai ibu saya yang berada di surga marah dan meminta Allah untuk memasukkan bapak-bapak ke dalam neraka jahannam karena menyakiti anaknya.

“Yang ketiga. Saya sekolah di sini atas permintaan Kiai Mansyur. Kalau bapak ingin mengeluarkan saya, saya siap.

Silakan bilang ke Kiai Mansyur. Tapi tolong sekali lagi. JANGAN HINA ORANG TUA SAYA!” Suara saya meninggi.

“Kau itu yang Iblis!”

Seorang guru yang paling dekat denganku menampar mukaku sambil berkata, “Jaga bicaramu!” Aku diseret ke rumah Kiai Mansyur.

“Pak kiai, ini tak bisa dibiarkan. Anak ini harus dikeluarkan!”

“Ada apa ini kok ribut-ribut?” tanya Kiai Mansyur.

Wajahnya selalu datar dan penuh wibawa.

“Ini pak kiai. Anak ini sudah menghina semua guru, berkata kotor, bahkan memukul salah satu guru hingga gusinya berdarah,” jawab salah satu guru.

“Biar saya yang menangani. Kalian kembali dulu!” ujar Kiai Mansyur.

“Nggeh, pak kiai.”

Beberapa guru itu keluar dari rumah Kiai Mansyur dan seketika itu aliran darahku mengalir lancar.

Wajah anggun pak kiai selalu membuat hatiku menjadi tentram.

“Mir!”

“Dalem, Kiai.”

“Saya perhatikan kamu, kamu itu anak yang hebat.

Saya yakin kamu nanti akan jadi orang yang sukses. Tapi satu yang harus kamu ingat, yaitu sabda Nabi, ‘Ridho Allah itu ada pada ridho kedua orangtua, dan murka Allah itu juga ada pada murka kedua orangtua.

Kamu tau makna kedua orangtua?”

“Maaf, Kiai. Kalau tidak keliru, kedua orangtua adalah ibu dan bapak.”

“Jawaban kamu itu tepat. Tapi itu makna terlalu sempit. Sementara orangtua itu tidak hanya ibu dan bapak.”

“Maaf, Kiai. Maksudnya?”

“Kedua orangtua itu bisa dimaknai, orangtua kandung dan orangtua non kandung. Keduanya harus kita hormati.

Ibu bapakmu itu orangtua kandungmu. Dan guru itu termasuk di antara orangtu non kandungmu, yang kedua-duanya harus kamu hormati.

Orangtua itu meskipun salah, kita tetap tidak boleh kasar pada mereka. Bahkan seandainya orangtua mengajak pada kemusyrikan, Tuhan menyuruh untuk menolak dengan sehalus mungkin.

“Mir, kamu itu anak yang cerdas dan pandai. Satu yang kurang, yaitu kerendahan hati. Saya tau kamu itu masih muda, masa seseorang ada pada tingkat puncak keegoisan.

Tapi jika kamu bisa merendahkan apinya, itu akan lebih baik.

“Minta maaflah pada mereka! Nanti biar saya yang bicara pada mereka agar tidak mengulangi perbuatanperbuatanmu yang kurang baik itu.”

“Nggeh, Kiai.”

Sejak saat itu aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Hubunganku dengan guru-guru juga mulai akrab.

Tulis Komentar