Beranda Islami Sabar Dalam Derita, Sabar Dalam Bahagia

Sabar Dalam Derita, Sabar Dalam Bahagia

Sabar dalam derita dan bahagia

Ada yang berkata, sabar adalah menahan gejolak nafsu untuk meraih yang baik atau yang lebih baik. Ada yang berkata, sabar adalah patuh yang keras. Ada juga yang mengartikan sabar terambil dari kata yang bermakna ketinggian.

Ketiga makna ini dapat digabungkan menjadi: Jika seseorang mampu menahan gejolak nafsu, maka hatinya akan kukuh, dan kemudian ia akan meraih ketinggian.

Ada begitu banyak hal yang akan didapatkan oleh orang yang menjadikan sabar sebagai kepribadiannya. Atas kasih sayang Tuhan, Dia memerintahkan agar orang-orang beriman mau bersabar.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan tingkatkan kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali „Imrān: 200)

Hai orang-orang yang beriman! Siapapun yang meyakini wujud Tuhan dan keesaan-Nya, percaya pada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasulNya, hari kiamat, dan kada kadar-Nya, yang keimanannya masih naik turun, maupun yang sudah terpatri demikian kuat, yang pertama yang harus kalian lakukan adalah bersabar. bersabarlah kamu! Dalam hal apapun.

Dalam melaksanakan perintah-Nya, dalam menjauhi larangan-Nya, dalam menghadapi musibah-musibah. Rasulullah saw. bersabda, “Kesabaran seseorang dapat diukur ketika ia ditimpa musibah pertama kali.” Karena jika penderitaan telah berlalu, maka tidak lagi dibutuhkan kesabaran sebagaimana tatkala ditimpa musibah pertama kali.

Sabar saja belum cukup. Ada yang kedua yang harus kalian lakukan, yaitu, tingkatkan kesabaranmu. Kata “tingkatkan kesabaranmu” terambil dari lafaz (صببروا) “Shābirū”, yang merupakan kalimat perintah berbentuk musyarakah, yakni wazan yang berfaidah pada adanya dua pihak atau lebih.

Yakni, saling mengingatkan dalam kesabaran. Seperti dalam firman-Nya, bahwa orang yang selamat dari kerugian, antara lain adalah yang saling berwasiat dalam hal kesabaran.

Bisa juga bermakna kompetisi. Kompetisi bersabar dengan siapapun. Dengan orang lain, maupun dengan diri sendiri.

Yang ketiga, tetaplah bersiap siaga, yakni tetap kokoh dalam pendirian. Jika dalam peperangan, tunjukkan bahwa kau sama sekali tidak gentar. Dengan demikian, kau akan semakin kuat, dan musuh-musuhmu akan merasa takut.

Jika kau terlihat pesimis, maka itu akan mempengaruhi dirimu dengan kelemahan, dan mengobarkan semangat musuhmu. Kuatkanlah kaki-kakimu dalam menapaki jalan kebenaran, agar musuhmusuhmu, berupa Iblis dan setan, gentar menghadapimu.

Dalam memerangi kehidupan pun harus demikian. Bersemangat. Jangan lenuh. Semangatmu akan menguatkan dirimu. Menggentarkan penderitaan, kesedihan, dan air mata kekafiran. Derita bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi dan dilawan.

Keempat, bertakwalah kepada Allah, yakni menghindarlah dari neraka Allah, dalam arti, jangan injakkan kakimu pada jalan yang tidak direstui Allah.

Wahai orang-orang yang beriman, lakukan empat hal itu, supaya kamu beruntung. Kata “beruntung” menunjuk pada kata (تفلحوى)“Tufliẖun”, terambil dari kata (فلح) “Falaẖa” yang pada mulanya bermakna megeduk tanah untuk menanam benih. Itu sebabnya, para petani dinamai al-Fallāẖ. Dalam azan, ada ajakan, Hayya „alā alFalāẖ/Mari menuju keberuntungan.

Sehingga, kata “beruntung” adalah orang yang menanam benih kebaikan, dan nanti, di dunia, kau akan mendapat ketenteraman batin, dan besok di akhirat, kau akan mendapat pahala.

Sabar juga merupakan salah satu jalan di antara jalan-jalan yang mampu mendekatkan diri pada Allah dan dicintai-Nya. Karena orang yang sabar, berarti ia cinta pada Tuhannya. Dan ketika seorang hamba mencintai Tuhannya, maka Tuhan akan mencintainya.

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Allah mencintai orang-orang sabar.” (Ali Imrān: 146)

Sabar adalah sifat para nabi dan rasul. Siapa yang bersabar, maka dia akan mendapatkan berkah kenabian. Rasul-rasul dahulu, selalu didustakan disakiti. Tapi mereka selalu sabar atas apa yang para pendurhaka lakukan.

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ

“Dan demi (Allah swt.) sungguh telah didustakan (pula oleh kaum mereka) rasulrasul (yang telah diutus) Allah sebelummu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan gangguan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji dan ketetapan-ketetapan) Allah. Dan demi (Allah), sungguh telah datang kepadamu sebagian dari berita (penting yang dialami oleh) rasul-rasul.” (Al- An‟ām: 34)

Rasulullah saw. juga selalu bersabar dalam setiap yang menimpanya. Sejak lahir ke muka bumi, Rasulullah saw. sudah tidak mendapati Sayyid Abdullah, ayahnya.

Di usia enam tahun, Sayyidah Aminah, ibunya, wafat meninggalkannya. Kemudian dirawat Abdul Muthallib, kakeknya, dan tidak lama setelah itu kakeknya meninggal.

Dirawat Abu Thalib, pamannya, juga meninggal. Dalam hidupnya, Rasulullah saw. banyak sekali ditinggal orang-orang yang sangat dicintainya.

Selain mereka, Rasulullah saw. juga ditinggal Sayyidah Khadijah, istri pertamanya, dan juga yang paling dicintainya. Semasa hidup, Rasulullah saw. juga ditinggal semua putra-putrinya hingga yang tersisa hanya Fatimah Zahra.

Namun demikian, Rasulullah saw. tetap selalu bersabar. Saat awal-awal berdakwah, kaum Musyrik Mekkah tidak henti-hentinya berbuat aniaya.

Mereka mendustakannya, menganggapnya gila, menuduhnya penyair, menuduhnya penyihir, dan segala macam bentuk aniaya lainnya.

Bahkan kepada orang yang setiap hari meludahinya, Rasulullah saw. menjenguknya saat yang bersangkutan sakit.

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلا بِاللَّهِ وَلا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

“Dan bersabarlah. Tidaklah kesabaranmu (wahai Muhammad, akan mencapai hasil yang memuaskan), melainkan dengan (pertolongan) Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka dan jangan (pula) engkau bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (An-Naẖl: 127)

Orang yang mengaku beriman, tidak akan dibiarkan oleh Allah begitu saja tanpa mendapat ujian. Jika ujian itu dapat ia lalui dengan kesabaran, maka Allah akan meninggikan derajatnya dan memberikan kasih sayang serta bimbingan-Nya.

155.  وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
156. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
157. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. [155] (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Innā lillāh wa Innā Ilayh Rāji‟ūn. [156]. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan kasih sayang dari Tuhan mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat bimbingan. [157]” (Q.S. Al-Baqarah: 155157)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, berupa musibah yang tidak kausenangi. Musibah itu sesungguhnya hanya dengan sedikit, betapapun besar dan

beratnya musibah, sesungguhnya itu hanya sedikit. Dan Allah tentu tahu kadar kekuatan manusia. Dia tidak akan menguji manusia di luar kemampuan mereka.

Mereka pasti akan diuji dengan sedikit ketakutan pada keberlangsungan hidup yang akan datang atau ketakutan karena mendapat sebuah ancaman, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira, wahai Muhammad, kepada orang-orang yang sabar.

Orang-orang yang bersabar (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah berupa cobaan-cobaan itu, mereka mengucapkan serta merenungkan makna istirjā‟, yakni bacaan Innā lillāh wa Innā Ilayh Rāji‟ūn. Sesungguhnya kami dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Mereka yang mengucapkan dan merenungkan kalimat istirjā‟ itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan kasih sayang dari Tuhan mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat bimbingan berupa gandengan “tangan” Tuhan menuju jalan yang lebar lagi luas.

Apa yang terjadi dalam hidup ini tidaklah selalu sesuai yang kita harapkan. Karena itu, sabar adalah kebutuhan setiap manusia. Setiap manusia. Orang yang sudah tua, anak muda, anak-anak. Laki-laki, perempuan.

Orang yang lemah, orang yang kuat. Sakit, sehat. Miskin, kaya. Orang yang lemah harus memiliki kesabaran, jangan sampai kelemahannya membuat ia tidak menerima takdir yang telah ditetapkan Tuhan.

Orang yang kuat juga harus memiliki kesabaran, jangan sampai kekuatan itu digunakan pada yang bukan tempatnya, menganiaya yang lemah, dan bersifat congkak pada semua. Orang yang sakit harus memiliki kesabaran, jangan sampai sakitnya itu menjadikannya berputus asa dan mengutuk-ngutuk kehidupan.

Orang yang sehat juga harus bersabar, jangan sampai kesehatan itu digunakan pada sesuatu yang melanggar tuntunan yang telah ditetapkan oleh agama dan budaya.

Orang yang miskin harus memiliki kesabaran, jangan sampai kemiskinannya menceburkannya pada jurang kekafiran, melupakan segala kenikmatan yang telah Tuhan anugerahkan.

Orang yang kaya juga harus bersabar, jangan sampai kekayaannya membuat ia terkungkung dalam kelalaian, dan mengantar pada kesombongan. Kesabaraan dibutuhkan, bukan saja dalam penderitaan, tapi juga di dalam kebahagiaan.

Penulis:

~(M Nuchid)~

Tulis Komentar