Beranda Feature Saka Palaguna, 17 Tahun digerogoti Paru-Paru Basah

Saka Palaguna, 17 Tahun digerogoti Paru-Paru Basah

Saka Palaguna, 17 Tahun digerogoti Paru-Paru Basah
Doc, Teguh Santoso

Belasan Tahun Nomade, Numpang di Rumah Tetangga

Derita Saka Palaguna, 18, seolah tiada pernah berakhir. Sejak bayi, pemuda yang tinggal di Desa Tegalbang, Kecamatan Palang itu hidup tanpa ayah. Keluarganya hidup miskin. Kondisi tersebut diperparah dengan penyakit paru-paru basah akut yang dideritanya selama tujuh belas tahun.

TUBUH pemuda itu hanya berbalut kulit. Saking kurusnya, tulang-tulangnya terlihat menonjol menembus kulit keringnya.

Seharian, dia tidur di atas lantai ruang tamu rumahnya dan hanya beralaskan tikar plastik warna kuning. Bantalnya coklat kumal.

Kondisi tersebut dialami Saka, panggilan akrab Saka Palaguna sejak umur 40 hari. Itu berarti 17 tahun lebih bocah tersebut digerogoti penyakit yang menyerang parunya tersebut.

Pada usia delapan tahun, Saka mengalami muntah darah. Hampir satu baskom darah yang mengalir dari mulut dan hidungnya.
Sampai sekarang pun dia masih sering muntah darah.

Kondisi tersebut mengakibatkannya harus berkali-kali bolak-balik ke rumah sakit. ”Kalau disuruh menghitung, saya tidak ingat lagi. Terlalu sering ke rumah sakit,” kata Wedok, 35 ibu kandung Saka.

Penyakit itu pula yang menjadikan anaknya begitu dekat dengan jarum suntik dan obat-obatan.

Selama ini, Saka menjadi pasien tetap RSUD dr R. Koesma Tuban. Dia berobat gratis dengan fasilitas Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Karena mekanismenya ribet dan berbelit-belit, Wedok mengaku kerap mengobatkan putra sulungnya tersebut dengan fasilitas umum alias tanpa KIS. Ikhtiar tersebut tak juga membuat penyakit buah hatinya itu sembuh.

Sebenarnya, wanita yang hanya lulus sekolah dasar (SD) itu berharap anaknya dirujuk ke rumah sakit provinsi dan mendapat penanganan khusus. Namun, harapan tersebut hanya sia-sia. ”Saya tidak tahu sampai kapan Saka seperti ini. Kami sudah menunggu 17 tahun,” tutur dia mengiba.

Karena penyakitnya tersebut, Saka hanya sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD). Bocah kelahiran 1 Juli 2002 itu memang sempat mencicipi pendidikan di bangku SMP. Itu pun sampai kelas dua. ”Anak saya terpaksa putus sekolah karena kondisi penyakitnya,” tutur Wedok.

Setelah drop out, Saka hanya di rumah. Hari-harinya lebih banyak diisi dengan tiduran. Untuk mengisi kejenuhan, sekali waktu dia bermain gitar. Hanya sekali waktu dia keluar rumah. Itu pun tak jauh.

Saka bersama ibu, Siti Sholihah, 7, saudara tiri, dan neneknya yang buta tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana. Tempat tinggal tersebut hanya berukuran 3×5 meter(m).

Ruangannya 1 kamar tidur dan 1 ruang tamu yang difungsikan sebagai kamar. Dindingnya tembok. Lantainya keramik. Rumah tersebut hanya berisi sebuah lemari dan kasur lantai.

Di tempat hunian itu jangan berharap menemukan televisi dan barang-barang elektronik lainnya. Listrik yang menyalur dari rumah tetangganya hanya untuk menyalakan tiga bola lampu kecil di tiga ruang. Kala malam, penerangan tempat hunian tersebut terlihat redup.

Karena dekat hutan, rumah tersebut banyak nyamuknya. Wartawan yang mendatangi tempat tinggal itu juga mencium aroma tidak sedap. Menurut Wedok, bau tersebut bersumber dari bangkai yang dibuang di sungai timur rumahnya. ”Ya, beginilah. Sering kali sekitar rumah kita dibuangi bangkai,” tutur dia perempuan berjilbab itu.

Rumah baru yang ditinggali Saka dan keluarganya adalah pemberian bupati dua tahun lalu. Sebelumnya, Wedok dan keluarganya numpang tinggal di rumah tetangga. Itu dijalani selama enam tahun. Tetangga yang ditumpangi tidak hanya satu, tapi enam keluarga.

Bupati memberikan rumah tersebut secara kebetulan. Saat itu, Saka sakit keras dan bupati menengok. Setelah melihat kondisi keluarga yang nomade atau berpindah-pindah tempat tersebut, hati bupati luluh. Dia pun membangunkan rumah baru yang sangat minimalis.

Derita Saka sepertinya tiada pernah berakhir. Ketika berumur sembilan bulan, Sabari, ayah kandungnya meninggal dunia karena sakit paru. Sama seperti penyakit yang idapnya.

Setelah itu, Wedok, ibunya menikah lagi dengan Prapto, pemanjat pohon bogor. Kehadiran ayah tirinya tersebut tak menjadikan keluarga kecil itu lebih baik. Dia tak pernah memberi nafkah ibunya. Saka pun beberapa kali disiksa.

Temperamentalnya sang ayah tiri menjadikan pernikahannya dengan ibunya hanya seumur jagung. Dari pernikahan keduanya, ibu Saka dikaruniai dua anak, Siti Sholihah dan Sholihin. Siti Sholihah tinggal bersamanya. Sementara Sholihin tinggal bersama Prapto.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Wedok bekerja sebagai pembantu di sebuah rumah tangga di Tuban. Jaraknya empat kilometer dari rumahnya.

Gajinya hanya Rp 60 ribu per hari. Itu pun sebagian terpotong untuk transportasi. Tentu, uang sebesar itu tak cukup untuk membiayai hidup keluarga miskin itu.

Di tengah menghadapi derita panjangnya, Wedok berharap Tuhan menggerakkan hati dermawan untuk membantunya. ”Kami hanya ingin hidup layak, tidak harus berlebihan,” tutur dia. artikel terbit di Radar Tuban cet, 23 November 2019. (tgh/ds)

Tulis Komentar