Santri Lestarikan Literasi

  • Whatsapp
Ilham Tlison
@ilham

“Apabila kamu bukan anak seorang raja atau ulama’ maka jadilah penulis”

Istilah literasi pada umumnya mengacu pada kemampuan atau keterampilan membaca dan menulis.

Muat Lebih

Artinya seorang yang literat adalah orang yang telah menguasai keterampilan membaca dan menulis dalam bahasa.

Membaca dan menulis sangat erat kaitannya, hal ini bisa menjadi sarana untuk menambah wawasan pengetahuan.

Sejarah memcatat bahwa pendidikan literasi adalah hal yang mesti ada dikarenakan hal ini dapat menghasilkan suatu karya yang dimana karya tersebut akan dimanfaatkan oleh diri sendiri, khalayak umum, terutama juga para generasi mendatang yang nantinya mungkin akan diteruskannya kembali.

Dalam islam yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah yang dianut mayoritas orang mengenal sebutan madzahibul arba’ah yaitu para imam yang menjadi pegangan dalam menjalankan syariat agama terutama dalam fan ilmu fighiyah, beliau adalah imam hanafi, imam maliki, imam syafi’l, dan imam hambali.

Sebenarnya bukan hanya imam madzahibul arba’ah saja yang berkontribusi dalam perkembangan fan ilmu fiqh ini, salah satunya adalah imam sofyan ats tsauri.

Tapi, kenapa hanya imam madzahibul arba’ah lah yang selalu menjadi rujukan umat atas sebuah persoalan yang dihadapinya, apakah hal itu menafikan para imam lainnya?.

Hal ini tidak berkaitan mana yang lebih unggul dalam masalah pemahaman dalam ilmu fiqh sehingga yang lain tidak mendapat tempat, melainkankan para imam madzahibul arba’ah memiliki beberapa karya yang karyanya tersebut telah banyak tersebar dipenjuru dunia saat ini dan paling banyak dikaji.

“Pendidikan literasi bisa dikategorikan sebagai pendidikan yang terpenting untuk dipelajari sepenting pendidikan lainnya, karena pentingnya literasi itu dalam bidang pelestarian sebuah karya-karya yang jika karya tersebut hilang dari peradaban, maka akan menjadi sampah ilmiah”

Sumbang asih dalam kehidupan manusia pun berasal dari karya akibat sebuah pendidikan literasi seperti contoh diatas.

Tulisan berjudul Budayakan Minat Baca Tulis’ dalam Kompasiana tahun 2004 mengatakan bahwa maju mundurnya peradaban suatu bangsa salah satu nya bisa dilihat dari budaya baca tulis bangsa itu sendiri.

“Semakin tinggi budaya baca tulis masyarakat, semakin maju pula peradabannya.”

Siapa pun yang ingin maju dan berbuat yang terbaik bagi bangsanya haruslah membiasakan diri dengan aktivitas membaca dan menulis.

Dalam empat keterampilan berbahasa pun keduanya menempati urutan tertinggi setelah menyimak dan berbicara.

Hubungan keduanya sangat erat bagaikan fondasi-fondasi yang turut memperkokoh sebuah bangunan.

Cara penumbuhannya:

Terlepas dari sebuah manfaat akan pentingnya sebuah pendidikan Literasi adalah cara tentang bagaimana melestarikan hal tersebut agar terus ada sampai kedepannya. Tak mungkin jika dijaga kalau besoknya tidak ada yang akan menjaga.

Ada banyak cara untuk menumbuhkan minat sebuah pendidikan literasi, diantaranya adalah:

1. Berkenalan

“tak kenal maka tak sayang” adalah pepatah yang cocok jika kita ingin tahu apa itu literasi. Berkenalan dulu tentang apa yang akan dilakukan, seperti mencari tahu mengenai hal-hal yang berhubungan dengannya atau manfaat yang diperoleh darinya.

2. Tanamkan rasa cinta

Sebuah rasa cinta dapat merubah kebencian menjadi hal yang disukai, amarah menjadi kasih sayang, dan lain sebagainya.

Tanamkanlah rasa cinta ini dalam pikiran bawah sadar bahwa kita menyukai sebuah literasi dan biarkan nanti sugesti yang telah tertanam akan menumbuhkan benih cinta pada diri kita sehingga dalam pendidikan ini tak ada rasa.

3. Bangun motivasi diri

Dalam setiap hal yang dilakukan terutama dalam bidang pedidikan perlulah kita sebuah motivasi, yang demikian itu dapat memberikan semangat dalam melanjutkan langkah serta memacu pikiran kita agar terus mengembangkan diri dalam berinovasi menghasilkan hal-hal baru dalam diri sendiri.

4. Memulai dan mencoba

Setelah semua hal yang ada diatas, sekerang adalah memulaikannya.
Langkah-lagkah awal seperti ini biasanya tempat dimana semangat bisa mendadak down sehingga perlu adanya langkah kedua yakni mencoba terus.

Sehingga tidak ada kata menyerah sampai terbentuknya hal yang kita inginkan tersebut.

“Pada dasarnya semua harus berawal dari dalam diri dan dari hal terkecil.”

Maka dari itu mari kita memulai mbiasakan menenggelamkan diri dalam dunia kreativitas dengan membudayakan tradisi membaca dan menulis.

Percayalah buku adalah gudang ilmu, barangsiapa banyak membaca dan menulis maka mereka menguasai informasi, sedangkan mereka yang menguasai informasi maka mereka menguasai dunia.

Maka dari itu demi sebuah bangsa yang majemuk dengan budayanya marilah budayakan pendidikan Literasi yang akan memajukan negeri ini apalagi kalau kita seorang santri. Salam santri salam literasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *