Satu Sisi Pesantren Tarbiyatut Tholabah (Pendidikan Bahasa Arab)

  • Whatsapp
Tabah

Fathnan.id | Istilah santri bukan menjadi sebutan yang asing lagi bagi sebagaian besar masyarakat pesisir, bahkan kiranya sudah dikenal baik oleh masyarakat Jawa secara menyeluruh.

Istilah santri sendiri oleh beberapa ahli diterjemahkan sebagai seseorang yang belajar agama Islam dengan jalan menetap di pondok pesantren dalam kurun waktu yang relatif lama dan apa yang dipelajari adalah terkait dengan disiplin ilmu keagamaan, yang di antaranya tidak lain adalah Bahasa Arab yang di dalamnya memuat dua kajian penting, yakni Nahwu dan Shorof.

Muat Lebih

Nahwu dan Shorof merupakan pengetahuan dasar yang sudah barangtentu akan disajikan untuk para santri semasa belajar agama di pesantren.

Ia merupakan instrumen penting yang wajib dipelajari dan dikuasai oleh sekalian santri guna memahami dengan benar baik teks Al-Quran maupun Hadis.

Melihat urgensi dari kedua ilmu tersebut, maka tidak berlebihan jika ia diqiyaskan sebagai Bapak dan Ibu dari segala ilmu.

Selain sebagai alat untuk menafsirkan kedua teks Al-quran dan Hadis, Nahwu dan Shorof juga dapat membawa santri pada kemampuan berbicara Bahasa Arab dengan benar.

Tentunya sesuai gramatika bahasa yang sudah dirumuskan sebagai disiplin ilmu yang pada gilirannya akan memudahkan mereka menghafalkan, memahami, megajarkan dan mengamalkan kedua objek studi Al-quran dan Hadis tersebut.

Terkait kemampuan berbicara Bahasa Arab, sebagian besar santri meyakini hanya dengan mendalami Nahwu dan Shorof mereka akan serta-merta terampil berbicara, sehingga tidak sedikit kita temui santri yang berada di beberapa pesantren yang meskipun sudah matang pada taraf kemampuan gramatika bahasa namun tidak cakap dalam berbicara.

Hal ini memang menunjukkan bahwa eksisteni bahasa tidak hanya pada satu konteks sebagai disiplin ilmu, namun ia juga merupakan seni yang penguasaannya sendiri butuh suatu keterampilan khusus.

Tarbiyatut Tholabah sebagai pesantren yang memiliki komitmen dalam mengembangkan pengetahuan keagamaan santri, senantiasa berupaya memberikan kaidah pembelajaran yang komprehensif.

Maka wajar saja jika selain Nahwu dan Shorof, Bahasa Arab menjadi salah satu materi pelajaran yang mendapat perhatian khusus di pesantren tersebut.

Keseriusan pesantren untuk membangun potensi kebahasaan dapat dilihat dari bagaimana upayanya dalam menerapkan pendekatan pembelajaran secara active learning-dimana santri melalui kegiatan belajar dituntut aktif berbicara Bahasa Arab yang tetntu saja sesuai dengan taraf kemampuan masing-masing santri.

Pada konteks ini, dalam upaya mematangkan kemampuan Berbahasa Arab para musrif (istilah guru dalam Bahasa Arab) membuat peraturan bagi santri, yang biasanya diistilahkan sebagai hari bahasa.

Hari bahasa merupakan strategi yang sudah lama digunakan pesantern ini sebagai patokan jadwal Berbahasa Arab. Pergantian jadwal berbahasa diadakan hampir setiap hari dan diberlakukan sampai pukul 21.00 malam.

Setiap hari (kecuali hari Jumat) para santri ber-muhadatsa atau berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Arab, yang di situ akan dikontrol langsung oleh para musrif yang bersangkutan.

Dalam upaya controling, di samping sebagai pengarah, musrif juga berperan sebagai mata-mata bagi santri selama praktik berlangsung, yang ia akan memberikan sangsi tegas kepada setiap santri yang didapati melanggar peraturan.

Biasanya sangsi yang diberikan berupa hafalan kosakata baru sejumlah ketentuan yang disepakati. Dari konsekwensi ini serta-merta membentuk sebuah budaya tahfiz atau menghafal bagi mereka.

Sehingga tanpa disadari memunculkan kebiasaan-kebiasaan kreatif yang mendorong para santri lebih aktif dalam berbicara Bahasa Arab.

Beberapa kebiasaan kreatif santri mulai dari menulis daftar kosakata pada selembar kertas dan menempelkannya pada dinding kamar, lemari dan pintu, sampai pada kebiasaan membawa kamus ke manapun mereka pergi.

Saat berkeliling lingkungan pondok, terutama di Asrama Al-Maghribi akan ditemukan banyak santri dengan membopong kamus di tengah kesibukannaya baik di dalam maupun luar asrama.

Aktivitas di dalam asrama seperti belajar, melipat baju, bahkan sampai tidur sekalipun tidak bisa jauh dari yang namanya kamus. Dan di luar asrama seperti halnya makan dan mencuci baju mereka selalu meletakkan kamus yang tidak jauh dari tempat mereka berada.

Bahkan di kantin sering sekali didapati mereka sembari menikmati makan siang membolak-balikan kamus karena mencari kosakata baru yang belum dihafal. Begitu pula saat menggosok pakaian sering dibarengi menyingkap lembaran-lembaran kamus.

Bila masuk ke dalam asrama, khususnya Al-Maghribi akan mendapati banyak sekali tempelan kertas di dinding dan lemari yang memuat kosakata Bahasa Arab.

Tentu saja ini akan menjadi pemandangan baru bagi siapa pun yang pertama kali masuk ke lingkungan asrama tersebut – dan mungkin saja akan memandangnya aneh dan terkesan tidak teratur.

Namun oleh mereka yang sudah pernah mondok hal itu dianggap biasa saja dan justru akan dinilai sebagai kreativitas yang sebaiknya tetap dilestarikan.

Dengan tradisi belajar yang sedemikian kreatif, maka tidak heran jika banyak alumni pesantren ini yang piawai Berbahasa Arab dan bahkan sebagaian dari mereka melalui kemampuanya itu terlibat dan menjadi juara dalam banyak olimpiade Bahasa Arab.

Bahkan tidak sedikit yang mencoba keberuntungan di program beasiswa pendidikan baik di dalam maupun luar negri dan akhirnya diterima.

Melihat keberhasilan pesantren melalui pendekatan Bahasa Arab dalam menghantarkan alumninya ke pintu gerbang jenjang pendidikan tinggi selalu dipertahankan dan akan ditingkatkan. Hal ini tentu saja dalam rangka menjaga komitmen terhadap semua tantangan dan harapan masyarakat.

Maka dirasa bukan suatu yang berlebihan jika pesantren yang satu ini dikatakan sebagai pesantren yang bonafit dan patut dipertimbangkan sebagai alternatif tempat menimba ilmu Agama bagi pelajar manapun.

Penulis: Mr. Kholif En Adalah Santri Tarbiyatut Tholabah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *