Beranda Cerita Secepat Inikah aku Menemukan Jodohku

Secepat Inikah aku Menemukan Jodohku

Jus Alpukat dan Rinai Perpisahan
@solikhah.98_

Tidak ada yang memungkiri soal kecerdasan Azizah. Sejak TK hingga kuliah, selalu ia menggondol juara. Juga tidak ada yang mampu menyangkal soal kecantikannya. Bangun tidur saja, nilai cantiknya masih berada di atas para pemenang kecantikan dunia. Tidak heran, jika Saja diperebutkan banyak pria sejak dulu di kampungnya, hingga kini di kota.

Mulai dari teman sekelasnya, sekampusnya, hingga dosen-dosen pengajarnya, baik yang masih perjaka maupun yang telah beristri.

Hilma, teman satu kost Azizah, sering menjadi sasaran “kirim salam” orang-orang itu. Tidak ada yang menarik untuk ditemui Azizah dari semua list pengirim salam kecuali satu, saat Azizah sudah hampir menyelesaikan kuliahnya.

Azizah sudah berhenti bekerja di kafe, dan ingin konsentrasi dengan tugas akhir kuliahnya. Tabungannya, mungkin hanya cukup untuk kebutuhan sehari-harinya, dan bukan termasuk biaya yang akan banyak dikeluarkan di semester terakhir kuliahnya.

Barangkali itu sebabnya, ia ingin segera menemui orang yang akan menjadi tulang punggungnya, yang memberi kehangatan di saat ia kedinginan, dan memberi kesejukan saat ia kepanasan.

Mereka bertemu di sebuah kafe saat mega merah hendak menyelam di ufuk magrib, kafe yang belum lama ia berhenti di tempat itu. Seakan-akan, di Jakarta hanya satu kafe itu. Dan ia memang belum pernah ke kafe lain. Azizah yakin betul, di kafe itu ia akan menemukan jodohnya. Dan, mungkin yang akan ditemuinya itu, dialah jodohnya.

Azizah memesan es teh. Sementara lelaki rupawan di hadapannya memesan secangkir kopi.

“Tidak sekalian pesan makanan?” Lelaki itu bertanya.

“Aku tidak makan malam dengan orang yang belum aku kenal.”

“Apakah kamu akan menerima bunga di malam hari oleh orang yang akan kamu kenal?” Lelaki itu menyodorkan seikat bunga.

Azizah seperti pernah mengalami malam ini. Ya, dalam mimpi. Azizah selalu gagal mengingat rupa lelaki misterius dalam mimpinya itu. Tetapi berhadapan dengan lelaki yang kini berada di hadapannya, ia yakin, dialah lelakinya.

“Aku tidak menerima bunga dari laki-laki yang hanya ingin bermain-main denganku.”

“Apakah kamu akan menerima cincin dari laki-laki yang bertekad menikahimu.” Lelaki itu mengeluarkan kotak kecil entah dari mana. Seperti adegan sulap, kotak kecil itu terbuka di hadapan mata Saja, dengan cincin berlian setengah tenggelam di kasurnya.  “Maukah kamu menerima lamaranku, Azizah?”

Secepat inikah aku menemukan jodohku? pikirnya. Tetapi, lelaki yang baru kali pertama dijumpainya, sungguh telah membuatnya yakin. Dialah orangnya.

Sejak tadi, langit sudah mendung. Dan, baru setelah sekian lama, langit membunyikan gemuruhnya, memercikkan kilatan cahaya, sebelum kemudian mengguyurkan hujan.

“Aku lapar.”

“Jadi, kita akan makan malam bersama?”

“Kita akan menikah, kan?”

“Tidakkah kamu ingin mengenalku lebih dulu?”

“Berkenalan saat lapar akan mengganggu pencernaan, bukan?”

Tulis Komentar