Beranda Cerita Semburat Tawa | Chapter 1

Semburat Tawa | Chapter 1

Serabut tawa

GORESAN itu menyerupai rinai hujan di kala senja. Saat itu, aku berusia sepuluh tahun. Belum terlalu lama untuk wajar dilupa.

Langit yang mulai menjingga menyemburkan hujan ketika kami tengah asyik bermain bola. Tiap tetesannya mengajak kami menari bersama rerumputan yang basah.  Di tengah kebahagian itu, seorang tokoh antagonis dalam kehidupanku datang dengan amarah yang purnama.

Hujan yang kian menderas rupanya tidak mampu sedikit pun meredam gejolaknya. Anak-anak dibuatnya buyar mencari keselamatan. Tinggal aku sendirian di bawah langit yang mendadak hitam.

Aku diseretnya keluar dari bekas medan kebahagiaan dengan tangannya yang kokoh. Menerobos hujan, menerobos senja yang telah beranjak pudar, melewati jalan-jalan tempat warga menyaksikan hujan.

Sesampai di rumah, kepalaku ditenggelamkan dalam air kolah, menutup tiga celah pernapasan. Entah sudah berapa banyak air yang masuk dari mulut dan hidungku. Jika saja tiga detik lagi kepalaku tidak diangkat, mungkin aku sudah mati.

Kepalaku diangkat dan dihadapkan dengan wajah garangnya yang penuh murka. Di sela-sela jemarinya sudah cementel kayu rotan. Rotan yang licin dan panjang itu dengan merambang-rambang dipukulkan ke punggungku. Sakitnya menembus ke ulu hati.

“Sudah Bapak bilang, setelah Asar itu ngaji. Bukan main bola. Mau jadi apa kamu, Bassam? Mau seperti anak-anak yang masa depannya suram itu?”

Aku tidak pernah tahu, siapa sebenarnya di antara kami yang bersalah. Apakah menempatkan diri dalam dunia anak sebagai anak-anak adalah kesalahan? Tapi bagaimana pun juga, orang tua selalu yang benar. Mereka dianggap telah berkorban banyak untuk anak. Anak dianggap telah berutang banyak pada orang tua, yang utang itu diimani oleh banyak manusia bahwa ia tidak akan pernah terbayar.

Di sekolah maupun di pengajian, setiap anak selalu dijejali dengan nasihat-nasihat bagaimana cara berbakti kepada orang tua. Berulang kali. Sementara para orang tua tidak pernah peduli bagaimana caranya bercinta kasih pada anaknya. Tidak pernah peduli bagaimana cara memperlakukan anak dengan cara yang semestinya.

“Sudahlah, Pak. Namanya juga anak-anak.” Dengan intonasinya yang lembut, Ibu mencoba meredam suasana.

“Kalau tidak begini, dia tidak akan pernah dewasa, Bu,” jawab Bapak dengan nada yang mulai berpendar.

Diam beberapa saat. Menghela beberapa napas. Lalu Pria itu kembali mengarahkan pandanganya padaku dan bertanya, “Kamu sudah salat Asar?”

Aku menggelengkan kepala. Sungguh, setiap berhadapan dengannya, potensi berbohongku selalu mendadak lenyap. Mendengar jawaban itu, Bapak menarik napas panjang sambil memejamkan mata. Begitu napasnya terembus dan matanya terbuka, tangannya meraih kepalaku dan membenturkannya pada ujung tembok. Sakit sekali. Aku menangis. Bapak berlalu.

Aku tahu yang dilakukan Bapak bukan tanpa alasan. Bukan atas dasar pemikiran liar yang bercampur emosi semata. Aku juga pernah mendengar bahwa sebuah Hadis memerintahkan orang tua untuk memukul anaknya jika anak itu enggan salat. Entahlah, setahuku, dan yang kuyakini, Nabi Muhammad adalah manusia yang lemah lembut, dia diutus sebagai rahmat semesta. Aku tidak yakin itu benar-benar perkataan Nabi.

Bapak memang tipe orang yang menganut paham fundamentalis. Jika melihat sesuatu yang baginya tidak benar, ia langsung turun tangan menghentikan ketidakbenaran itu, tanpa dua kali berpikir atau memperpanjangnya lagi. Aku pernah mendengar cerita dari orang-orang, bahwa Bapak pernah menghajar orang sewarung di tengah-tengah perjudian dan pesta minuman keras. Bapak adalah pendekarnya kampung Asem Canting, kata mereka. Belum pernah ada yang berhasil mengalahkannya, bahkan ketika mereka melawannya dengan ramai-ramai.

Hujan sudah agak reda. Malam sudah mencapai lingsirnya. Ibu menghampiriku dengan sebuah handuk, mengusapkannya di kepalaku. Sementara dengan jemarinya ia menyeka air mataku. “Bocah lanang kok gembeng.”

Ibu selalu mampu membuatku tersenyum di berbagai situasi. Tidak ada lagi yang bisa memahamiku selainnya.

Ibu adalah perempuan yang luar biasa. Seandainya waktu bisa diputar mundur, lalu Tuhan mempersilakan setiap hamba-Nya untuk memilih ibunya masing-masing, maka aku akan tetap memilih Ibu, Mardiyah, sebagai ibuku. Tapi, aku benar-benar tidak tahu jika waktu dikembalikan semundur-mundurnya, lalu ada pemilihan bapak, sepertinya aku tidak tertarik untuk memilih Adelan sebagai bapakku.

Selain cantik, Ibu juga berpendidikan. Hanya entah mengapa, bisa-bisanya wanita sesempurna itu jatuh cinta dan bersedia menikah dengan Bapak, orang yang biasa-biasa saja. Hanya lulusan pesantren dan pengajar Madrasah Ibtidaiah, yang gajinya sangat pas-pasan, lebih sering kekurangan daripada kecukupan, yang lebih wajar dikatakan miskin dari pada sederhana. Dan puncak yang paling menyebalkan darinya adalah ketidakadilannya kepada anak-anaknya.

Mbak Ziyadah adalah kakak perempuanku. Satu-satunya saudara kandungku. Bapak sangat menyayanginya. Mungkin karena kesempurnaannya. Selain cantik dan penurut, Mbak Ziyadah juga cerdas dan pandai. Ia selalu mendapat juara di kelasnya.

Sementara aku hanyalah anak yang berkulit hitam, berhidung besar, berambut keriting, dan berperut buncit, juga tidak pernah mendapatkan juara di sekolah. Dari 21 siswa, rangkingku selalu berkisar antara 17 sampai 20. Untungnya ada teman sekelasku yang bodohnya luar biasa, sudah kelas enam Ibtidaiah, masih juga belum bisa baca tulis. Dan aku harus berterima kasih untuk itu, dialah yang menolongku sehingga aku tidak sampai di ujung peringkat.

*****

“Bapak itu kan guru, Bu. Mengapa dia seperti tidak hafal pancasila?” Aku berkeluh bersama keheningan malam.

“Bapakmu itu guru Fikih, bukan guru PPKN,” jawab Ibu tanpa berhenti menjahit baju Bapak yang robek di bagian ketiaknya. “Tapi seguru-gurunya Fikih, bapakmu itu pancasilais. Dia pernah berkata, bahwa Pancasila itu Fikihnya negara.”

“Ini bukan tentang negara, Bu. Ini tentang keluarga. Di antara sila yang ada dalam Pancasila adalah keadilan. Dan, Bapak tidak bisa berbuat adil, bahkan terhadap anaknya. Dia selalu pilih kasih. Lebih sayang ke Mbak Ziyadah daripada sama saya.”

Ibu hanya tersenyum tanpa memberi komentar apapun.

“Saya tidak habis pikir. Saya ini kan anak laki-laki, yang akan menjadi penerusnya, yang seharusnya … Oh … Saya tahu, pasti Bapak terpengaruh dengan gerakan emansipasi wanita, ya, Bu …”
Ibu tersenyum. “Kamu tahu dari mana tentang emansipasi wanita? Kecil-kecil sudah bisa ngomong emansipasi segala.”

“Dulu sewaktu ada kompetisi karaoke di sekolahan, Saya ikutan, dan saya membawakan lagu ‘Emansipasi Wanita’-nya Rhoma Irama,” jawabku sambil nyengir dan menggaruk kepala belakang yang tak gatal.

“Anakku sayang … Ini tidak ada hubungannya dengan Pancasila, emansipasi wanita atau apapun itu. Karena sejak semula, laki-laki dan perempuan itu sama. Sama-sama memiliki posisi masing-masing. Apa yang dilakukan bapakmu tidak sepenuhnya salah. Bapakmu tahu menempatkan sesuatu pada posisi dan porsinya.

Mbakmu Ziyadah itu dididik dengan kelembutan karena dia perempuan. Dan kamu dididik dengan ketegasan karena kamu laki-laki. Bapakmu ingin kamu menjadi anak yang kuat dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi kehidupan yang keras ini. Itulah yang dinamai dengan keadilan. Adil itu bukan berarti dipukul rata. Tapi adil adalah bisa menempatkan pada posisi dan porsi yang semestinya.”

“Tapi, Bu …”

“Oh iya, Ibu tadi masak sayur kelor, ikan asin, dan sambal terasi. Menu makan kesukaanmu,” katanya disambut dengan menggigit benang jahitannya, lalu menyusupkan jarumnya di antara benang-benang. Kemudian ia beranjak ke dapur, menyiapkan makanan.

Makanan telah tersusun rapi di atas meja makan. Sudah siap saji. Tinggal menunggu Bapak dan Mbak Ziyadah yang entah ke mana rimbanya.

Bunyi motor yang terlalu bising itu akhirnya terdengar. Kian mendekat, semakian dekat. Bapak dan Mbak Ziyadah tiba dengan buah tangan. Sebuah kantong plastik hitam yang dari celahnya terlihat tusuk sate.

Benar-benar tidak tahu diri, gerutuku dalam hati. Ibu sudah berlelah-lelah memasak, menunggu kedatangannya, tapi mereka malah membeli makanan dari luar. Ibu memang pandai menyembunyikan kekecewaan. Tapi aku tidak sehebat itu. Dengan rakus aku langsung melahap makanan yang tersaji di atas meja. Sesekali aku melirik sate yang nikmat itu. Bapak bilang kalau aku memang sengaja dibelikan. Aku tidak peduli.

*****

NYANYIAN burung di pagi hari turut menyambut kedatangan sang pembawa kehangatan. Embun yang membasahi rerumputan mulai mengering seiring kedatangan mentari dari balik pepohonan bambu. Mbak Ziyadah sudah berangkat sekolah sejak pagi sekali. Sementara aku masih bersembunyi di balik selimut. Sedang tidak enak badan, juga kebetulan sekolahku sedang libur karena ada rapat guru.

Bapak menyisir rambut ikalnya di depan cermin, bersiap-siap ke kantor Badan Akreditasi Nasional untuk mendaftarkan Akreditasi sekolahku. Lalu ia duduk di atas kursi layaknya raja yang duduk di singgasananya. Ia merogoh saku dan mengeluarkan rokoknya. Sebatang darinya ia selipkan di sela bibir dan membakar ujungnya.

“Kopi di mana?” katanya dengan kepulan asap yang lober dari mulutnya.

“Itu di atas meja,” jawab Ibu yang sedang bersih-bersih rumah.

“Apa susahnya melayani suami dan sejenak meninggalkan sapu?”

Ibu menaruh sapunya, berjalan ke dapur mengambilkan kopi dan membawanya ke meja depan Bapak.

Aku mengibaskan selimut, memaksa berdiri meski kepalaku masih sangat berat.

“Bapak, apa susahnya mengambil kopi di dapur yang sedekat itu?” Aku beranikan diri untuk berterus terang.

Setelah mengembuskan asap racunnya itu, Bapak membuang puntungnya di lantai yang baru saja Ibu bersihkan. Kopi yang belum diseruput sedikit pun, ia banting hingga gelasnya pecah dan kopinya tumpah ke mana-mana.

“Siapa yang mengajarkanmu berani melawan orang tua?” Sorot matanya merah dan membelalak tajam.

Aku menunduk. Ia berdiri. Mendekatiku. Sangat dekat.

“Siapa yang mengajarimu menjadi anak durhaka? Ha?” ulangnya lagi, yang tak kalah keras dari sebelumnya. Kemudian ia keluar sambil membanting pintu. Menstarter motornya.

Setelah bising motornya lenyap, aku menghampiri Ibu. “Mengapa Ibu  bertahan dengan orang seperti itu?”

“Bapakmu itu orangnya baik, Bassam. Dia sangat mencintai Ibu, juga mencintaimu. Meskipun caranya mengungkapkan cinta, terkadang tidak disukai oleh yang dicintainya.”

Ibu memberiku isyarat agar aku kembali berbaring di atas tilam. Kemudian ia menyelimutiku dengan selimut garis-garis yang warnanya sudah mulai kusam.

Dengan jemarinya yang hangat, Ibu memijit pergelangan kakiku.

“Apa yang Ibu maksud dengan baik dan cinta?”

“Kamu belum mengerti, Bassam. Dan pada saatnya kamu akan mengerti.”

“Sebodoh apakah saya ini, Bu? Sampai tidak bisa membedakan baik dan jahat, cinta dan benci? Sebodoh itukah Bassam ini, Bu?”

“Di dunia ini tidak ada orang bodoh. Yang ada hanya orang yang belum mengerti atau belum paham. Pada saatnya nanti kamu akan tahu semuanya.”

“Lebih baik saya tidak punya bapak sekalian.”

Aku menangkap beberapa perubahan di mata Ibu setelah kalimat terakhirku terlontar. Tangannya berhenti memijit. Wajahnya merah. Membuatku ketakutan. Aku merasa ada yang salah dengan kalimatku. Aku ingin meminta maaf, tapi lidahku mendadak kaku.

*****

PEMILIK suara cempreng dan melengking, yang sangat tidak ramah dengan gendang telinga, berteriak-teriak di depan rumah kami.

“Mardiyah! Mardiyah!”

Bu RT. Badannya basah oleh keringat. Napasnya terengah-engah. Mulutnya melebar. Demikian pula bibirnya yang membuka dan menutup dengan gerakan mekanis, seperti sebuah pintu yang bisa membuka dan menutup dengan otomatis.

“Pak Adelan, Mbak …”

“Kenapa dengan suami saya, Bu?”

“Pak Adelan … Pak Adelan ke..ke..kecelakaan!”

Mata Ibu membelalak. “Bu RT … Tolong jangan bercanda yang tidak-tidak!”

“Aku tidak bercanda, Mbak. Suamimu kecelakaan di pertigaan Sidayu, sekarang ada di PKU Muhammadiyah.”

Dada Ibu naik turun dengan kuatnya. Tarikan napasnya menjadi lebih cepat. Ibu berjalan dengan langkah-langkah yang cepat dan ringan, seakan-akan kakinya tidak membawa badannya. Man Dul sudah menunggu di depan rumah dengan motor Hondanya. Sementara aku masih terbujur kaku seperti batu yang tetap tegak walau seandainya badai dahsyat menerpa.

“Ayo, Bassam!” Man Dul memanggilku. Ia menyisahkan sedikit tempat di sedel motornya.

“Dia sedang tidak enak badan,” kata Ibu padanya.

“Saya ikut!” teriakku.

*****

MENDUNG hitam bersama senja menyelimuti Asem Canting. Julai-julai jingga kegelapan berarak merebut kerajaan langit, menggantikan cerah yang rupa-rupanya telah berpulang ke peraduannya. Tubuh Bapak terbujur kaku di atas pembaringan, ditemani infus dan alat bantu pernapasan. Bekas darah yang mengalir masih sedikit basah.

Ibu tiada henti-hentinya menangis. Matanya memerah karena telalu banyak cairan yang tumpah. Ingin sekali Ibu memeluk Bapak, tapi Man Dul mencegahnya karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Tidak ada yang bisa kuperbuat. Aku memilih duduk-duduk di teras rumah sakit. Memeluk lutut sendiri, sambil menatap satu persatu tetesan gerimis senja.

Mbak Ziyadah masih mengenakan seragam sekolahnya. Bersama Bu RT dan beberapa tetangga, mereka berbondong-bondong membesuk Bapak. Mereka membawa aneka makanan dan buah-buahan.

“Kenapa kamu di luar, Bassam?” tanya Bu RT.

“Tidak apa-apa, Bu,” jawabku singkat.

“Ya sudah, kami masuk dulu, ya?”

“Monggo …”

Aku kembali menatap cakrawala. Menghitung tetesan senja. Hingga seseorang kemudian membuyarkannya dengan jawilan di pundakku.

“Kamu kenapa?” Man Dul duduk di sisiku.

“Tidak apa-apa, Man.”

Mandul memandangiku, seolah mencoba menelisik isi pikiranku dengan membaca guratan-guratan di mukaku.

“Bassam, semua yang terjadi di dunia ini sudah ditakdirkan oleh Allah. Jadi tidak perlu bersedih hati atas apa yang menimpa kita. Pasti ada kehendak Allah yang sangat indah, yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita. Bersedih boleh. Itu manusiawi. Tapi larut dalam kesedihan bukanlah sesuatu yang baik dalam Agama kita.”

“Ini semua salah saya, Paman.” Tangisku meledak.

“Salah kamu?”

“Pagi itu saya membuat keributan di rumah. Membuat Bapak marah-marah. Dan, mungkin karena itu, dalam berkendaranya, Bapak kehilangan kendali.”

“Semua yang terjadi di dunia ini sudah tertulis di catatan langit sana. Banyak orang sudah berhati-hati, menaati peraturan lalu lintas dengan baik, tapi masih saja kecelakaan. Ada yang naik motornya ugal-ugalan, tidak pakai helm, tidak pakai kaca spion, remnya blong, lampunya rusak, tapi selamat-selamat saja. Itu artinya, semua ini sudah ada yang mengatur. Maka kita pasrahkan saja sama Yang Maha Pengatur segala urusan itu.”

Tangisku terus mengalir. Ingusku ikut keluar.

*****

BAPAK selalu memberiku suguhan kehidupan yang keras. Menanam begitu banyak benih-benih kebencian dan dendam dalam hati. Tidak kusangka, kini aku sangat merindukannya. Tidak kusangka, di hatiku ternyata dia memiliki tempat yang layak untuk dicintai. Aku mencintainya. Aku merindukannya.

Aku masuk ke ruang pembaringan Bapak dan duduk di sampingnya, tepat ketika malam berparipurna menyelimuti Asem Canting. Rumah sakit mulai sepi. Aku mengelus tangan Bapak. Tangan yang kasar namun sejuk. Ada desiran yang mengalir di aliran darahku.

Ini  adalah malam keempat Bapak terbaring tanpa daya. Tanpa perubahan. Seakan nyawanya terletak pada nebulizer dan infus.

Malam semakin kelam. Tanpa cahaya bulan dan bintang yang berkedip-kedip. Malam yang redup, seredup wajah Ibu yang sejak hari pertama Bapak dirawat, tidak pernah berubah. Wajahnya pucat. Tatapannya kosong. Ia seperti kehilangan separuh jiwanya. Duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah Bapak. Nyaris tanpa gerak.

Sikapnya pun sangat dingin, bahkan terhadapku. Kami hampir tidak lagi saling bicara. Perasan bersalah juga membuatku semakin gagu dan bimbang untuk menyapanya.

Aku membuka tirai jendela dan membuang pandanganku pada malam. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya pepohonan dan belukar. Tanpa cahaya bulan dan bintang. Tanpa cahaya lampu. Hanya cahaya malam.

Angin berembus yang menerpa wajah kurasakan berbeda. Aku mencium aroma yang aneh. Aroma yang belum pernah kukenal sebelumnya.

Ketika pendanganku mengarah pada bumi, kulihat ada kaki yang berjalan. Tipis dan sangat panjang. Ia berjalan meliuk-liuk, lebih lentur dari bulir jelai yang diterpa angin. Kuikuti pandanganku ke atas. Sosok yang menyerupai manusia dengan postur yang sangat tinggi. Dua kali tinggi pohon bambu. Di belakangnya juga ada sosok yang lebih pendek darinya. Perutnya besar dan kakinya bercabang. Ia memiliki ekor yang menyerupai ekor buaya.

Bulu kudukku berdiri. Kakiku seperti tertancap di tanah. Aku menjerit ketika melihat wajahnya yang lebar itu mirip dengan wajah Bapak.

“Kamu kenapa, Bassam?” Ibu menghampiriku.

“Saya melihat hantu, Bu.”

“Sayang … Di sini tidak ada hantu.”

“Saya takut, Bu.”

Ibu memelukku dan mencium keningku. Aku kembali merasakan sebuah kehangatan.
“Maafkan saya, Bu. Saya sudah begitu banyak melakukan kesalahan. Saya tidak kuat lagi jika Ibu terus-terusan marah sama saya.” Lagi-lagi tangisku meledak. Entah sudah berapa banyak air mataku tumpah atas perasaan bersalah.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Bassam. Ibu tidak pernah marah sama kamu.”

Suara gelak tawa memingkal-mingkal dan membahak-bahak tiba-tiba mengagetkan kami berdua. Aku memeluk Ibu lebih erat dan membenamkan kepalaku di dadanya.

Ibu melepaskan pelukanku dan berlari memanggil perawat. Meninggalkanku sendirian bersama Bapak.

Tidak ada yang lebih menakutkan melebihi suara gelegar tawa ritmis yang diiringi kesunyian malam. Suara tawa itu laksana dendang lagu kematian.

Datanglah dua perawat wanita, tapi kemudian berhenti di tengah mulut pintu. Tidak berani masuk. Agaknya ia juga ketakutan dengan cekikikan yang tidak wajar. Mereka berlari memanggil perawat pria.

Perawat pria datang dengan setengah keberanian. Stethoscope binaural yang semula ia kalungkan di lehernya ditancapkan pada dua lubang telinganya. Ujung stethoscope itu ditempelkan pada dada Bapak. Kemudian dililitkan sphygmomanometer pada lengan Bapak, lalu ia memencet-mencet balon pompanya.

“Normal,” simpulnya singkat.

“Normal apanya? Bapak tertawa tanpa sebab dan matanya masih terpejam,” protesku dalam hati.
“Lalu bagaimana, Mas?” tanya Ibu pada pria berjubah putih itu.

“Untuk lebih jelasnya, sebaiknya kita tunggu dokter Hariadi saja besok,” jawabnya enteng.

*****

KOKOK ayam dan gonggongan anjing bersahut-sahutan melantunkan tarkhim fajar. Bapak berhenti dari gelegar tawanya ketika azan Subuh berkumandang. Dan kembali tertawa ketika azan usai diperdendangkan.

Man Dul, istri, dan anak-anaknya kembali datang ke rumah sakit ketika langit belum sepenuhnya terang. Melihat Bapak tertawa tiada henti, sepupu-sepupuku itu pada ketakutan dan bersembunyi di belakang ayah dan ibunya.

“Sejak kapan, Mbak?” tanya Man Dul.

“Tengah malam,” jawab Ibu singkat, tanpa intonasi yang menggurat.

Sampai hitam memudar meninggalkan malam, bersamaan dengan mentari menyemburkan cahaya pagi, tawa Bapak tidak juga terhenti. Padahal Man Dul bilang, hari ini akan banyak yang menjenguk. Termasuk di antaranya adalah guru-guru dan teman-teman sekolahku. Aduhai, betapa malunya aku nanti.

Sejurus kemudian, datang seorang pria gagah paruh baya berjubah putih yang di lehernya berkalung Stethoscope mendekati Bapak. Sepertinya dialah Dokter Hariadi. Lelaki itu memeriksa Bapak.
“Sepertinya Pak Adelan mengalami gangguan jiwa,” katanya enteng, seperti manusia yang tidak pernah berbuat dosa.

“Sekali lagi kau berkata seperti itu, kubunuh kau!” ancam Man Dul tidak terima dengan apa yang disimpulkan dokter dari pemeriksaannya. Adik kandung Ibu itu sudah mencengkeram kerah jubah sang Dokter Hariadi, hampir saja memukul kepalanya kalau saja Ibu tidak segera mencegahnya.
Suasana mendadak hening. Hanya suara jarum detik jam yang mewarnai. Tiba-tiba ada suara yang membuat kami semua terperanjat.

“Kok sepi?” Bapak bangkit. Matanya terbuka.

Semua orang tertawa, termasuk dokternya. Aku tidak. Aku belum menemukan kelucuan yang menyebabkan mereka tertawa. Oh, Tuhan. Sepertinya mereka sakit semua.

Dokter Hariadi kemudian memeriksa Bapak lagi. Setelah itu ia meminta maaf atas pemeriksaan sebelumnya. Katanya, ini merupakan keajaiban, sama sekali berbeda dengan pemeriksaan sebelumnya.

Lalu Dokter Hariadi menyimpulkan bahwa Bapak baik-baik saja, dan sudah memperbolehkan kami membawa Bapak pulang setelah melunasi semua biaya rumah sakit.

Orang-orang bilang. Masa muda Bapak, telah berkali-kali kecelakaan. Kalau tidak salah, ini yang kedelapan kalinya. Mereka bilang, Bapak bernyawa kucing. Dan rasanya, itu bukan merupakan mitos belaka.

*****

SEJAK Bapak pulang dari rumah sakit, rumah kami tidak pernah sepi. Bertubi-tubi tamu berdatangan untuk menilik Bapak, ada juga yang hanya sekadar ingin mendengar cerita dari Bapak, yang sebenarnya cerita itu sudah beredar di seantero kampung. Mereka ingin mendengar langsung dari Bapak.

Bapak telah berubah. “Berkat Kodok mikul bawang,” katanya.

“Kodok mikul bawang?” Semua yang mendengar dibuatnya bertanya-tanya. Seolah bertanya-tanya. Padahal mereka sudah tahu cerita selanjutnya.

“Ketika saya terbaring di rumah sakit, antara mimpi dan kenyataan, datanglah dua saudara kembar saya, Kakang Kawah dan Adhi Ari-ari.

“Oh, Njenengan  ini punya saudara kembar?” Seseorang bertanya. Sepertinya ia memang belum tahu cerita itu.

“Kita semua sebenarnya mempunyai saudara kembar,” jawab Bapak, “tapi tidak semua orang didatangi saudara kembarnya, atau sekurang-kurangnya tidak merasa punya saudara kembar. Kakang Kawah adalah kakak kita, yang lahir lebih dulu dari kita, atau yang biasa dinamai dengan ketuban. Sedangkan Adhi Ari-ari adalah adik kita, yang lahir setelah kita, atau yang sekarang lebih dikenal dengan plasenta. Orang sekarang itu aneh. Jawa tapi tidak tahu jawane.

“Kakang kawah saya itu berbadan kurus dan tinggi, sementara Adhi Ari-ari lebih pendek dan gemuk. Tapi wajahnya sangat mirip dengan saya. Mereka membawa saya ke sebuah tempat yang sangat tinggi. Seperti bangunan pembatas. Di tempat itu saya seperti melihat surga dan neraka.

“Bagaimana bentuk surga dan neraka, Kiai?”

“Sangat sulit mendeskripsikannya.”

“Lalu?”

“Lalu dua saudara saya itu membawakan sahabatnya, yaitu seekor kodok yang mikul bawang. Dengan busana yang sangat lucu. Kepalanya dililit surban layaknya seorang kiai, memakai jas hitam lengkap dengan dasi di lehernya seperti anggota calon kandidat legislatif, tapi tidak memakai celana luar maupun celana dalam. Kodok itu loncat dengan satu kaki, tangan kirinya mikul bawang dan tangan kanannya melambai sambil berkata, ‘Piye kabare? Penak jamanku toh?’ Suaranya sedikit bindeng menirukan gaya bicara Pak Harto.”

Para tamu terkekeh.

“Nah, di situ lah saya mulai tidak bisa berhenti tertawa. Kodok itu terus menerus melawak dan saya benar-benar tidak bisa menahan geli. Lalu di akhir lawakannya, ia berwejang pada saya, bahwa itulah Islam. Ia bukanlah agama yang menakutkan, bukan agama yang menyeramkan, bukan agama yang merestui kekerasan seperti yang disangkakan banyak orang, baik dari kalangan penganut Muslim sendiri maupun yang bukan Muslim. Islam itu agama pembawa rahmat, pembawa kedamaian, pembawa kasih sayang. Kanjeng Nabi Muhammad, utusan Allah yang dipercayai-Nya mengemban risalah Islam ini, dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa beliau adalah pribadi yang Dhaẖẖākan Bassāman, sering tertawa, dan sering tersenyum.

Maka aneh jika ada yang mengaku sebagai umat Rasulullah tapi tidak suka tertawa, tidak suka tersenyum, sukanya merengut, cemberut, seperti curut.

“Islam itu bukanlah simbol-simbol, kata kodok mikul bawang lebih lanjut, karena jika seseorang hanya melihat orang dari pakaiannya, orang akan mudah tertipu. Siapa yang bisa menjamin setiap yang bersurban dan memegang tasbih ke mana-mana itu orang baik, bisa saja orang gila. Banyak sekali orang-orang yang menampakkan simbol-simbol dengan pakaian-pakaian yang kemudian dinamai dengan sunah style, gaul syar’i, atau apalah itu, tapi wajahnya senantiasa merengut, penuh kebencian dan menebarkannya. Pakaian Rasulullah dengan orang-orang kafir Quraisy itu sama. Yang membedakan adalah air wajahnya. Jika sumeh, berarti sunah Rasul, kalau merengut, berarti sunah kafir Quraish. Itulah kurang lebih yang disampaikan oleh Kodok Mikul Bawang.”

Sejak kejadian itu, Bapak mendapat julukan baru, yaitu “Kiai Kodok Mikul Bawang”. Dan sejak itu pula, Bapak sering diundang ceramah ke mana-mana. Orang-orang sangat suka dengan ceramahnya. Bukan saja karena Bapak mendadak pintar melawak, tapi juga karena ceramah yang disampaikan sangat sarat makna. Wajar, Bapak bukan orang yang sehari dua hari mengunyah kitab kuning di Pesantren.

*****

KARIR Kiai Kodok Mikul Bawang semakin melesat. Nama aslinya, Adelan, justru seakan terlupakan. Mereka hanya tahu nama julukannya: Kiai Kodok Mikul Bawang.

“Dia itu dipanggil Kiai Kodok karena berjalannya pincang, seperti kodok,” kata seseorang sok tahu.
“Bukan, dia itu dijuluki Kiai Kodok Mikul Bawang karena dia suka makan sate kodok yang ditaburi bawang goreng,” kata yang lain.

“Ngawur.” Yang lain tak mau kalah, “Kodok kan haram dimakan. Tidak mungkin seorang kiai makan kodok. Mungkin dia dijuluki kodok karena wajahnya mirip kodok dan tubuhnya mirip bawang.”
Demikian seterusnya. Nama Bapak menjadi bahan perdebatan. Bahkan di sekolah, aku sering dipanggil dengan sebutan “Anak Kodok”. Aku tidak marah, karena mereka tidak sedang berniat menghinaku atau menghina bapakku. Dulu ada seorang sahabat Nabi yang dijuluki al-‘Asham yang artinya tuli. Karena ia pernah berpura-pura tuli ketika ada seorang wanita yang kentut, agar tidak melukai perasaan si wanita. Kemudian lelaki yang bernama Hatim itu mendapat penghargaan dengan dijuluki Hatim al-‘Asham, Hatim si tuli.

***

KIAI Kodok Mikul Bawang ini sungguh berbeda dengan Adelan sebelumnya. Dia tidak pernah lagi membuat kerusuhan di tempat perjudian dan mabuk-mabukan. Bapak datang saja, mereka sudah sungkan dan menghentikan semua aktivitasnya.

“Lanjutkan saja. Tidak perlu takut. Saya tidak akan memukul kalian. Tidak ada hak bagi saya untuk memukul kalian,” tuturnya dengan senyuman.

Semua orang menunduk. Seseorang mencoba menatap mata Bapak. Bapak mengangkat kedua alisnya. Orang itu tersenyum lalu menunduk lagi.

Bapak memesan kopi sambil merogoh rokok di saku bajunya. Ia bakar ujung batang rokok yang diapit dua bibirnya yang hitam. Kepulan asap melayang-layang di udara mengikuti arah angin yang bertebaran.

“Allah tidak pernah memaksa kita untuk berbuat baik. Allah hanya memberi pilihan di antara dua pilihan. Baik atau buruk. Terserah kalian mana yang mau kalian pilih. Hidup di dunia ini lama, tapi sangat sebentar jika dibanding dengan hidup di akhirat sana. Jamu itu pahit, tapi pahitnya hanya sebentar jika dibandingkan dengan kesehatan setelahnya. Gula itu manis, tapi kalau kau lebih memilih gula yang manis itu, manisnya hanya sesaat, tapi sakitnya terus-terusan.”

“Sebenarnya saya sudah lama ingin tobat, Kiai.” Wak Kastom mengangkat kepala. “Tapi saya masih punya tanggungan banyak utang. Saya tidak mungkin bisa membayar utang sebanyak itu dalam keadaan seperti ini. Saya hanya bisa mengandalkan judi.”

“Dan utangmu berkurang?”

Wak Kastom menggeleng. “Makanya saya minta doanya saja, Kiai. Biar saya bisa menang dalam perjudian.”

“Judi itu seru. Seru sekali. Agama tidak pernah melarang berjudi. Asalkan, judinya tidak dilakukan berjamaah. Karena judi yang melibatkan dua orang atau lebih, akan merugikan satu dan yang lainnya. Kalau ingin berjudi, berjudilah, di kamar kalian masing-masing, dan jangan mengajak siapa pun.”
“Ya ndak bisa toh, Kiai. Itu namanya bukan judi. Itu ngitung kartu.”

“Begini. Saya tidak sedang sombong, ya. Tapi saya bersedia menjadi sahabat kalian. Mumpung saya sedang punya banyak rezeki. Kalian catat berapa jumlah utang kalian, dan berapa modal yang  kalian butuhkan agar tidak berjudi lagi. Lalu serahkan pada saya.”

Wak Denan, yang paling tua di antara mereka berujar, “Utang saya sangat banyak, Kiai. Ada kalau satu juta saja. Nanti saya akan kesulitan membayarnya.”

Bapak tersenyum. “Kalian juga saya pinjami modal untuk bekerja. Kalau memang kalian tidak sanggup untuk membayar, anggap saja itu pemberian, bukan utang. Jadikanlah saya sahabat kalian. Apakah di antara kalian ada yang tahu apa berbedaan teman dan sahabat?”

Semuanya menggeleng.

“Teman itu, kalau punya utang pada temannya, meskipun hanya lima ratus rupiah, akan tetap dibayar. Kalau sahabat, ketika dia butuh uang, baik sedikit atau banyak, ngomongnya minjem tapi tidak dikembalikan.”

Semuanya tertawa lagi.

Keesokan harinya, tempat perjudian dan mabuk-mabukan itu menjadi sepi. Mereka bekerja di siang hari dan tidur di malam hari lebih cepat karena kelelahan. Bapak juga mengimbau kepada penjaga warung untuk tidak menjual lagi minuman-minuman yang memabukkan. “Biar saya yang ganti rugi semuanya,” katanya.

*****

TERKADANG, aku merindukan Bapak yang dulu. Kini, bapak tidak pernah lagi mencambukku dengan rotan, menenggalamkan kepalaku di kolah, membenturkan kepalaku di tembok, bahkan membentakku pun sudah tidak pernah.

Bapak tidak pernah lagi menyuruh-nyuruh Ibu untuk membuat kopi. Dia bahkan mencuci pakaiannya sendiri. Selama di rumah ada masakan, dia tidak pernah membeli makanan di luar. Dia sering sekali memuji masakan Ibu. Kalaupun sesekali masakannya pernah keasinan, ia hanya berkata, “Makanannya enak banget. Pengen punya anak lagi, ya?”

“Kok tahu?”

“Keasinan.”

Setelah itu keduanya krintul-krintul dan lampu dimatikan.

Meskipun karir Bapak sudah melanglang buana, Bapak tidak meninggalkan aktivitas mengajarnya di Madrasah Ibtidaiah. Zaman sekarang, sangat susah ditemui, orang besar yang masih bersedia mengajar di Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiah, mungkin karena gengsi, atau gaji yang tidak sesuai. Bapak masih menyempatkan dua kali dalam seminggu untuk mengabdikan dirinya di Madrasah.

Sudah menjadi adat di daerahku, khususnya di kampung Asem Canting, orang yang dianggap pandai dalam Agama, akan didatangi banyak orang, bukan hanya untuk meminta penjelasan tentang Agama, tapi juga menjadi tempat curahan hati masyarakat, termasuk di antaranya adalah meminta agar rezekinya lancar, memohon agar ditemukan jodohnya, dan juga berharap kesembuhan dari penyakit.
“Kalian salah orang jika meminta saya memperlancar rezeki, mempertemukan jodoh, dan menyembuhkan penyakit. Tapi kalau membantu doa, atau mengaminkan doa kalian, Insyaallah saya bisa,” katanya di depan para tamu.

“Nggeh niku ingkang kulo maksud, Kiai,”  jawab mereka.

Kebiasaan yang menurutku buruk, yang tidak berubah dari Bapak hanyalah kebiasaannya merokok. Bahkan ketika ada tamu pun, baik orang yang sudah lanjut usia, anak-anak muda, laki-laki, perempuan, Bapak tidak pernah berhenti untuk sambung-menyambung rokoknya.

Seorang tamu pernah bertanya, “Menurut Pak Kiai, apa hukum merokok?”
Bapak mengisap rokoknya, setelah menyemburkan asapnya, ia menjawab dengan sebuah cerita jenaka.

“Rasulullah itu mempunyai kebiasaan sebagaimana kebiasaan orang-orang Jawa masa lampau, yaitu bertapa. Hanya bedanya, saat Rasulullah bertapa, beliau membawa bekal makanan, untuk dimakan dan dibagikan pada orang-orang yang membutuhkan. Inilah yang dinamai dengan Taẖannuts.

Aktivitas ini berlangsung hingga suatu hari, Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama, yaitu Iqro’!, itu kalau dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya merokoklah! Kemudian Rasulullah menjawab, Mā Anā biqāri’ artinya, Saya tidak punya korek.”

Orang-orang tertawa mendengar jawaban Bapak. Namun si penanya benar-benar tidak puas dengan jawaban itu. Wajahnya merah pedam. Alis, mata, hidung, dan mulutnya, berkumpul menjadi satu. “Bukankah Njenengan adalah seorang kiai yang menjadi panutan banyak orang, mengapa Kiai bercanda menggunakan ayat-ayat Alquran? Itu sama saja dengan menghina Alquran.”

Suasana hening seketika. Orang-orang berhenti dari gelegar tawanya.

Setelah menutul-nutulkan puntung rokok di asbak, Bapak menjawab, “Ulama-ulama masa lampau itu sudah biasa membuat humor dengan menggunakan Alquran. Di antara tujuannya adalah agar pendengar betah mendengar ceramah-ceramahnya, dan juga agar pembaca tidak bosan membaca tulisan-tulisannya. Saat itu tidak ada yang mengatakan ulama-ulama yang menggunakan Alquran sebagai humor itu menghina Alquran.

“Misalnya nih, ada cerita menarik. Ini ceritanya lucu, tapi kalau yang mendengar kurang cerdas, atau kurang ngerti Alquran, jadinya tidak lucu. Makanya, biar terlihat cerdas, kalian harus tertawa.

“Suatu hari, ada orang Arab Badui yang bernama Musa. Dia orang baik, tapi pada kondisi kepepet, ia terpaksa mencopet. Setelah mencopet, dia langsung pergi ke Masjid untuk salat berjamaah, sambil memegang erat-erat dompet dengan tangan kanannya. Ketika ia bergabung dengan jamaah yang lain di dalam saf, sang imam kebetulan membaca ayat, Wamā tilka biyamīnika yā Mūsā?  Apa yang ada di tangan kananmu, Musa? Tentu saja pencopet yang bernama Musa itu kaget. Kok imam bisa tahu ya, kalau di tangan kananku ada dompet? Pikirnya, Dia pasti seorang penyihir.”

Para tamu terbahak-bahak. Yang bertanya terdiam saja. “Kalau mau tertawa, tertawa aja!” kata teman di sampingnya.

“Pernah mendengar cerita tentang Asy’ab?”

Orang-orang menggeleng.

“Asy’ab ini tokoh yang sangat terkenal dalam legenda Arab. Dia ini sangat tamak, sampai-sampai mendapat gelar Asy’ab at-Thammā’. Orang-orang pun, kalau mengejek orang tamak, ia akan berkata, ‘Orang ini memang benar-benar tamak, melebihi Asy’ab.’ Meskipun demikian, Asy’ab ini orang yang luar biasa. Sangat cerdas dan hafal Alquran di luar kepala. Tidak jarang dalam keisengannya, dia menggunakan ayat-ayat Alquran.

“Antara lain, pada suatu ketika, Salim bin Abdullah bersama istri dan anak-anak perempuannya sedang liburan ke luar Madinah. Begitu Asy’ab mendengar kabar itu, dia langsung menyusul. Akhirnya Asy’ab berhasil menemukan tempat Salim dan keluarganya yang sedang menikmati liburan. Asy’ab datang ke rumah peristirahatan Salim.

Tetapi pintu tetutup. Lalu Asy’ab memanjat tembok rumah. Salim yang sedang istirahat bersama istri dan anak-anak perempuannya tentu saja kaget, dikiranya ada tokek raksasa. Eh, ternyata Asy’ab. ‘Hoe, Asy’ab, kurang ajar! Picek koen ya … Kau tidak lihat ada istri dan anak-anak perempuanku?’ Sepontan Asy’ab mengutip ayat Alquran, Laqad ‘Alimta Mā Lanā fī Banātika Min Haqq, wa Innaka Lata‘lamu Mā Nurīd.

Engkau tahu aku tidak butuh anak perempuanmu. Dan tentu engkau sudah tahu apa yang kuinginkan.” Karena terkenal ketamakannya itu, Salim bin Abdullah pun menyadari jika yang diinginkan oleh Asyab adalah makanan.

“Ini bukan hanya sekali dua kali Asyab lakukan. Sangat sering. Dia ini suka makan-makan, tapi malas bekerja. Ya, hanya dengan bekal kecerdasan dan hafalan Alqurannya saja. Tidak tanggung-tanggung, dia itu pernah langsung mendatangi Amīrul Mu’minīn, Abu Jakfar al-Manshur, hanya untuk meminta makan. Lalu dikasihlah dia satu makanan.

Kemudian Asy’ab protes, ‘Wahai Amīrul Mu’minīn, mengapa hanya satu? Ketahuilah bahwa dalam Alquran disebutkan, Tsaniya istnain (dua) iż Humā fī al-Ghār.’

Lalu Abu Jakfar memberinya dua makanan.

Asy’ab berkata lagi, ‘Wahai Amīrul Mu’minīn, jangan bercanda, dalam Alquran disebutkan, Fa ‘azzaznā bi Tsālitsin (tiga)  fa Qālū Innā ilaykum Mursalūn.’

Abu Jakfar pun memberinya tiga makanan.

Asy’ab berkata lagi, ‘Wahai Amīrul Mu’minīn, dalam Alquran disebutkan, Fa Khudz Arba‘atan (empat) Min ath-Thayri fa Shurhunna Ilayk.’

Abu Jakfar pun memberinya empat makanan.

Asy’ab berkata lagi, ‘Wahai Amīrul Mu’minīn, ketahuilah, dalam Alquran dikatakan, Wa yaqūlūna Khamsatun (lima) Sādisuhum (enam) Kalbuhum.’

Abu Jakfar memberinya enam makanan.

Asy’ab melanjutkan ayatnya, ‘Rajman bil Ghayb. Wa Yaqūlūna Sab‘atun (tujuh) wa Tsāminuhum (delapan) Kalbuhum.’

Abu Jakfar memberinya delapan makanan.

Asy’ab membaca ayat lagi, ‘Wa Kāna fi Al-Madīnati Tis‘atu (sembilan) Rahthin.’

Abu Jakfar memberinya sembilan makanan.

Asy’ab membaca ayat lagi, ‘Tilka ‘Asyaratun (sepuluh) Kāmilah.’

Abu Jakfar memberinya sepuluh makanan.

Dibacakan lagi sebuah ayat, ‘Innī Ra’aytu Aẖada ‘Asyara (sebelas) Kawkaban.’

Abu Jakfar memberinya sebelas makanan.

Akhirnya Asy’ab lelah dan berkata, ‘Jika engkau tidak memberikan semua makanan, maka saya akan membaca ayat, Wa Arsalnāhu Ilâ Mi’ati Alfin aw Yazīdūn (Seratus ribu atau lebih).’

Lalu diberikanlah semua makanan itu kepada Asy’ab.”

Para tamu tertawa. Yang bertanya masih terbungkam tanpa ekspresi.

“Tapi …” Bapak melanjutkan, “tidak semua candaan dengan Alquran ini diperbolehkan. Tetap ada batasannya. Alquran pun mengecam orang-orang yang menggunakannya guyonan yang bukan pada tempatnya. Bercanda yang sifatnya menghina.

Misalnya orang kafir yang mengatakan bahwa Alquran itu bukan firman Allah tapi perkataan Muhammad. Atau misalnya menginjak Alquran, mengencinginya, dan lain sebagainya. Humor yang semacam ini tentu dilarang keras dalam Agama. Selama humornya masih dalam batas wajar, itu tidak masalah.”

*****

SUATU hari, Bapak mengisi ceramah Agama dalam rangka peringatan Maulid Nabi di Masjid Agung Gresik. Kebetulan, dalam acara tersebut turut hadir pula Bapak Shomad,  direktur stasiun televisi swasta Cahaya TV. Ia sangat tertarik dengan ceramah Bapak. Usai acara, Pak Shomad menawarkan agar Bapak bersedia mengisi ceramah di Cahaya TV setiap pagi. Agar dakwahnya lebih luas, katanya, agar dakwahnya terdengar ke seluruh pelosok negeri.

Setelah meminta persetujuan dari Ibu dan Ibu mengiyakan, akhirnya Bapak menerima tawarannya malam itu juga.

Dalam perjalanan menuju studio Cahaya TV untuk shooting perdana, seorang sopir truk kehilangan kendali. Lajunya zig-zag. Mungkin sedang ngantuk atau bahkan sedang mabuk. Truk itu menabrak mobil yang di dalamnya ada Bapak bersama sopirnya. Sang sopir tak terselamatkan. Bapak masih bisa dilarikan ke rumah sakit Surabaya.

Aku yang saat itu sedang mengikuti ujian akhir nasional, langsung meninggalkan ruang ujian begitu seorang guru memberitahuku. Kami sekeluarga langsung meluncur ke Surabaya.

Kondisi Bapak sangat parah. Seluruh tubuhnya berlumuran darah. Tapi Bapak masih bisa tersenyum. Sementara kami menangis histeris.

“Mengapa kalian menangis?” tanya Bapak dalam kondisinya yang sudah tidak karuan.
“Seharusnya aku tidak mengizinkanmu menerima tawaran ceramah di televisi itu,” jawab Ibu. Wajahnya bergelayut air mata.

“Sayang, apa kamu sudah lupa dengan apa yang dituturkan Syaikh Ibnu Nabatah? Wa Man Lam Yamut bi as-Sayf, Māta bi Ghairih. Ta‘addat al-Asbāb, wa al-Mawtu Wāhidun/ Siapa yang tidak mati akibat tebasan pedang, ia akan mati dengan sebab lain. Sebab itu bermacam-macam, tapi kematian hanya satu. Jika waktuku telah tiba, tidak ada yang dapat menunda atau mempercepat. Jika waktuku telah datang, itu bukan berarti sebuah perpisahan. Kematian hanya ruang tunggu. Ruang tunggu yang sangat menyenangkan bagi orang-orang beriman.

Doakan aku, mudah-mudahan termasuk orang yang baik. Kita akan berjumpa, Insyaallah, di surga-Nya. Kalau kamu masuk surga. Kalau kamu tidak masuk surga, ya sudah, aku akan menikah lagi dengan bidadari-bidadari yang ada di sana.”
Dalam kondisi seperti itu, Bapak masih bisa saja bercanda. Ibu juga, seperti lupa dengan kondisi yang sedang terjadi, Ibu mencubit lengan Bapak yang berlumuran darah. Mereka tertawa bersama. Kemudian Bapak memberi isyarat agar Ibu mendekatkan keningnya. Bapak mengecupnya dengan lembut.

Bapak juga memberi nasehat kepada kami anak-anaknya, seperti tahu malaikat Izrail sebentar lagi akan mencabut nyawanya. Benar. Bapak akhirnya mengembuskan napas terakhirnya setelah membaca dua kalimat syahadat dan selawat ibrahimiyah. Kami menangis. Bapak tersenyum.

*****

“KAMU pasti sangat merindukan bapakmu, ya?” Ibu membuyarkan lamunanku. “Dari tadi kamu pandangi terus lukisan wajah bapakmu, sampai lupa beberesnya. Ya sudah, biar nanti Man Dul sama teman-temannya yang beres-beres rumah. Kamu ziarah ke makam bapakmu saja, habis itu langsung pergi ke rumah Kiai Fauzi. Ibu pengen pas tasyakuran besok, beliau yang mengisi ceramah.”

“Kalau nanti Kiai Fauzi bertanya acara apa, saya jawabnya apa?”

“Tasyakuran.”

“Maksudnya tasyakuran apa?”

“Kiai Fauzi sudah tahu sendiri,” pungkasnya sambil memutar badannya meninggalkanku.

Tulis Komentar