Beranda Cerita Serpihan Kenangan yang Menguap

Serpihan Kenangan yang Menguap

Serpihan Kenangan yang Menguap

SETELAH Ibu, Kasmudi adalah manusia yang paling saya rindukan di Indonesia. Tetapi, Kasmudi telah tiada. Tinggal kenangan. Menguap. Naik ke langit. Lalu jatuh lagi ke bumi sudah bukan lagi menjadi Kasmudi.

Ada embel-embel “kiai” di depan namanya. Kini ia menjadi pendakwah kondang.

Tidak nyangka aja. Orang yang dulu begitu sering bertanya tentang agama pada saya, kini sudah melampaui saya. Tetapi saya yakin cuma popularitasnya saja yang melampaui. Ilmunya tentu masih di bawah saya.

Di satu sisi, saya bergembira Kasmudi tampil menjadi dai kondang di antara dai kroco-kroco nol ilmu agama yang terkenal hanya dengan modal pandai bicara, pandai membuat orang menangis atau tertawa.

Kiai Kasmudi, (sungguh, saya sebenarnya muak dengan sematan kata “kiai” yang melekat pada namanya) kerap gagal melucu, karena dia memang tidak punya kemampuan melawak sama sekali.

Apalagi membuat orang menangis, justru saat ia membuat perenungan, orang malah tertawa. Tetapi, tujuan berdakwah memang bukan untuk itu.

Tujuan berdakwah adalah mengajak, atau mengajarkan ilmu dan nilai-nilai Islam, serta mengupayakan perubahan pada masyarakatnya.

Dalam hal ini, saya melihat Kasmudi cukup berhasil.
Namun, di sisi lain saya menyayangkan, di usia mudanya ia sudah terjun ke dunia yang belum saatnya ia geluti.

Bukan karena ilmunya tidak mencapai standar ceramah. Waktu yang lama memisahkan, serta terputusnya koneksi di antara kami, membuat saya belum sempat bertanya dari mana ia belajar.

Memang, ilmunya sejauh yang saya perhatikan dari ceramahnya sudah seimbang dengan kiai-kiai sepuh yang sesungguhnya.

Tetapi saya tetap menyayangkan. Mestinya, di usianya, menuntut ilmu lebih banyak lagi adalah yang lebih baik baginya. Sebab, biasanya, jika seseorang sudah “berprofesi” sebagai pendai, maka ilmu yang dicarinya hanya sebatas mempersiapkan ceramahnya.

Mempersiapkan apa yang akan dibicarakan pada orang. Bukan yang ia bicarakan pada diri sendiri. Yang saya takutkan lagi, dan sangat saya khawatirkan, adalah jika ia tidak sanggup memikul beban cobaan sebagai pendakwah.

Di mana-mana, sebagaimana kasus yang banyak beredar di media, para pendakwah acapkali ndelosor begitu sekali tergelincir pada kerikil kecil yang menjegalkan. Sekali ia melakukan kesalahan, kesalahannya akan dibesar-besarkan, semua orang akan membicarakan, dan perlahan ia akan ditinggalkan.

Saya meragukan Kiai Kasmudi mampu bersikap bijak dalam hal ini.

Setelah ceramah, saya ingin sekali menemuinya. Tetapi, ia dijaga sangat ketat oleh bagian-bagian keamanan. Terpaksa, saya menerobos pagar manusia itu dengan tubuh saya yang lebih kekar dari mereka. Di saat yang sama, saya memisuhi diri sendiri berkali-kali. Saya telah bertingkah seperti fans Kasmudi yang mengidolakannya setengah mati.

Saya mendapatkannya. “Kiai …,” sapa saya sembari menjabat tangannya. Tentu saja tanpa mencium punggung tangannya seperti para jamaah lainnya. Karena saya tahu keberkahan di tangannya sangat sedikit. Lebih banyak yang ada di tangan saya, dan harusnya dia yang mencium tangan saya.

“Kang Nukid?”

Saya diajak ke ruang ramah tamah. Gila! Terhormat sekali orang ini. Suguhan untuk makannya bukan saja beragam, tetapi juga porsi yang disajikan mestinya cukup untuk orang sedesa.

Tidak banyak yang kami bicarakan di ruang itu, karena ada tuan rumah. Kami hanya saling sapa tentang kabar. Benar-benar tentang “kabar”. Apa kabarmu. Alhamdulillah. Itu saja.

Serampung itu semua, saya diangkut di mobil pribadinya. Kami duduk di kursi belakang, berdua. Lalu, Kasmudi bercerita. Lebih tepatnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat saya tanyakan.

“Saya sangat berterima kasih, sampean telah memperkenalkan saya dengan Mbok Rohayya.”

Jadi, kamu belajar ilmu agama dengan orang itu?

“Saya akhirnya sadar, Kang, bahwa belajar memang tidak harus selalu melalui bangku-bangku sekolah, pesantren, kuliah, mendengar manusia berbicara, maupun dengan membaca buku. Selama ini, orang mempersempit wasilah belajar.

Padahal, kita sebenarnya bisa belajar lebih banyak kepada alam dan kepada kehidupan. Dan yang lebih sering orang lupakan dan abaikan, padahal ini yang paling penting, yaitu belajar pada Tuhan.

Belajar kepada Tuhan adalah belajar terbaik. Sementara melalui mendengar dan membaca manusia, sesungguhnya berada pada beberapa tangga di bawahnya.”

Lalu, mengapa kau memutuskan untuk menjadi penceramah? Apakah kau merasa bahwa dirimu adalah penyambung “lidah” Tuhan untuk mengajarkan manusia?

“Akan tetapi, bukan berarti saya menganggap belajar dengan mendengar ceramah dan membaca buku manusia itu tidak penting.

Penting juga. Karena tidak banyak manusia yang masih sehat. Mereka banyak yang tak mampu lagi bercakap dengan alam. Mungkin karena tekhnologi yang ngriwuki alam raya ini, sehingga pandangan mereka tertutup, dan pendengaran mereka tertulikan dari suara-suara alam.

Dan dalam saat yang sama, suara manusia turut membisingkan. Para pendakwah akhir zaman berdakwah bukan karena ingin mengajak pada keimanan. Mereka lebih banyak memperjuangkan perutnya sendiri, dengan cara menjual agama.

Maka tidak heran, banyak pendakwah yang dalam ceramahnya sering mencaci, membenci, menutup rapat pintu toleransi, dan menjauhkan manusia dari kelapangan hati.”

Jadi kamu merasa yang paling berjasa untuk umat manusia?

“Ini tugas. Bukan tentang jasa atau budi. Itu perintah ilahi. Tugas kita hanya berdakwah.  Masalah mereka mau mengikuti atau tidak, itu terserah mereka.”

Jangkrik! Orang ini semakin menjadi-jadi. Saya bahkan belum mengucapkan apa pun. Dalam hal ini, saya merasa digurui. Seolah-olah dialah yang lebih pandai di antara kami.

Sebelum lebih lanjut Kasmudi membeberkan pencapaiannya, saya mencoba mengalihkan arah pembicaraan. “Kamu tahu kabar Mastur nggak, Kas? —Eh, maksudku, Kiai Kas.”

Dan saya telah melakukan kesalahan fatal. Saya gagal mengakrabi. Pasti orang ini akan semakin menjadi-jadi.

“Saya tidak pernah memedulikan orang manggil saya apa. Bagi saya itu tidak penting. Saya sebagai kiai, jika ada yang memanggil dengan sebutan ‘bajingan’, ‘bangsat’, ‘keparat’, dan apa pun itu, saya masih tetap kiai. Ya, toh?”

“Kas!” Saya putuskan untuk tidak memanggilnya dengan embel-embel apa pun. “Sekali lagi kamu pamer ilmu ke aku, tak tungkak raimu. Aku tanya kabar Mastur, kamu malah membahas tentang panggilan.

Jangan merasa ilmumu lebih tinggi dariku. Aku alumni Mesir, loh.”

“Saya tidak pernah menganggap lebih tinggi dari siapa pun, Kang ….”

“Aku tanya kabar Mastur!” potong saya setengah membentak. Dengan begitu, saya kini tidak lagi seperti muridnya.

“Dia sekarang jadi pejabat.”

“Penjahat?”

“Pejabat!”

“Apa bedanya pejabat dengan penjahat?”

Kasmudi diam tak menanggapi. Membuatnya terlihat begitu bijak. Membuat saya sangat kesal.

“Apa kamu lihat-lihat?” seru saya pada sopir yang tersenyum menjijikkan melalui pantulan spion dalam.

Tanpa permisi, saya menyulut rokok di dalam mobil ber-AC itu. Sengaja memancing murka Kasmudi.

Tiba-tiba Kasmudi nggrayangi saku baju saya, mengambil bungkus rokok, menyomotnya sebatang, meletakkannya di bibir hitamnya. Saya sulutkan ujung tembakau itu.
Saya tersenyum. Kasmudi tersenyum. Dia tidak benar-benar berubah. Alhamdulillah.

Penulis: M Nuchid

Tulis Komentar