Beranda Opini Anggaplah Kelestarian Sungai Adalah Sebagian Darimu

Anggaplah Kelestarian Sungai Adalah Sebagian Darimu

Opinion

Dewasa kini, sudah kita saksikan secara langsung dengan kedua mata. Bagaimana kekejian manusia menggarapalam. Manusia yang seharusnya berkewajiban untuk menjaga, meramut, dan merumat alam. Mereka malah menelanjangi dan menodainya dengan perilaku yang miring.

Padahal, jika digali lebih dalam lagi. Ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas kedermawanan alam. Tetapi, mengapa dari kebanyakan manusia justru menodainya dengan perilaku yang miring dan keji.

Salah satu bukti dari bentuk kekejian manusia menggarap alam adalah sungai. Sungai merupakan salah satu dari beberapa muatan alam yang merasakan ulah keji manusia. Padahal, jika ditelusuri lebih panjang lagi. Sungai juga menyuplay atau menyimpan sejuta keanungerahan nun-kemanfaatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata saja.

Toh meskipun disitu kualitas dan kuantitas hasil alam dari sungai berbeda jauh, jika dibandingkan dengan hasil alam dari laut. Akan tetapi, sungai masih memiliki nilai anugerah dan kemanfaatan tersendiri oleh sebagian orang yang membutuhkannya. Sebagai contoh kecil saja, batu dan pasir dari sungai yang tanpa kita pungkiri. Ternyata juga membantu meningkatkan materi dan ekonomi masyarakat.

Namun, apalah daya manusia yang inginnya hanya mengambil nikmatnya saja. Maka dari itu, moralitas yang bobroklah sebagai balasannya terhadap sungai. Bukti nyata dari moralitas bobrok tersebut adalah  tidak asingnya pemandangan tumpukan sampah yang berjejalan disepanjang aliran sungai. Bahkan, sampah-sampah yang berserakan di sekitar aliran sungai juga sampai membentuk pegunungan. Apalagi kalau bukan gunungan sampah namanya.

Hal tersebut disebabkan karena minimnya penyikapan. Ditambah lagi rutinitas perilaku masyarakat dalam membuang sampah sembarangan. Seakan-akan sungai dianggap dan dijadikan tempat pembuangan akhir oleh sebagian besar masyarakat. Sehingga pemandangan gunungan-gunungan sampah di lingkungan sungai menjadi pemandangan yang tidak asing lagi dimata.

Memang, membuang sampah kedalam sungai sudah menjadi hal biasa yang kerap sekali dilakukan bagi sebagian masyarakat. Dan seakan-akan sulit sekali untuk merubah dari kebiasaan buruk yang sudah mendarah daging dikalangan masyarakat, menjadi kebiasaan yang lebih baik lagi dari kemarin-kemarin. Namun, bukan berarti kita tidak mampu lagi untuk menanggulangi dan memberikan cahaya penerang untuk kelestarian sungai. Yang saat ini gelap gulita akibat moralitas bobrok membuang sampah yang diterapkan oleh sebagian masyarakat terhadap sungai.

Sebagai bentuk cahaya penerang untuk sungai pula penanggulangan kejadian ini agar tidak terus menerus dan tertularkan dari generasi kegenerasi berikutnya. Tentunya dari pemerintah sendiri juga tidak tinggal diam memebisu tanpa adanya penyikapan. Mereka juga menyusun sekaligus membuat undang-undang dan peraturan-peraturan. Yang disitu bertujuan untuk melestarikan alam, sekaligus bentuk perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Sebagaimana yang tercantum pada Undang-Undang No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Disebutkan pada Pasal 67 Bab X Tentang Hak, Kewajiban, Dan larangan. Bahwasanya “Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup”.

Dikuatkan lagi dengan Pasal 69 ayat (1) huruf a bahwasanya “Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup”. Tentunya, dari kedua pasal tadi sudah jelas. Sebagaimana upaya pemerintah untuk mempertahankan kelestarian alam dan lingkungan hidup. Yang banyak menyimpan kemanfaatan bagi setiap orang. Tak terkecuali sungai. Sungai juga merupakan salah satu dari beberapa jenis-jenis atau macam-macam lingkungan hidup.

Akan tetapi mengapa, kebiasaan-kebiasaan buruk masyarakat terhadap alam. Khususnya terhadap sungai masih saja berlaku hingga saat ini. Semisal membuang sampah disungai, mengambil hasil alam dari sungai dengan cara curang seperti diracuni dan sebagainya. Hingga mengakibatkan pencemaran pada lingkungan sungai. Apakah kurang jelas? Atau memang bagaimana? Kebiasaan buruk tersebut tetap saja berlaku dikalangan sebagian besar masyarakat?

Kemungkinan besar, dari tidak berlakunya undang-undang dimata sebagian besar masyarakat adalah minimya kesadaran akan kelestarian alam. Khususnya kelestarian sungai. Maka dari itu, PR nomor satu pemerintah untuk mewujudkan pelestarian sungai adalah kesadaran dari masyarakat yang masih minim terhadap kelestarian sungai. Sebab, tidak mungkin sungai akan terlihat seperti ke-alamian-nya terjadi, pula tidak mungkin sungai akan lestari dan terlihat asri lagi, kalau kesadaran masyarakat semakin hari semakin menipis habis.

Sebagai sajian pembuka dari isi, marilah kita dahului dengan bahasan alam terlebih dahulu. Sebab, jika membahas sungai, maka tak luput pembahasanya menyangkut pautkan dengan keadaan alam yang saat ini bisa dibilang sangat miris dan memprihatinkan. Maka dari itu, alamlah yang pantas sebagai sajian pembuka untuk bagian isi.

Patut untuk kita ketahui. Di jagad raya ini, tidak ada namanya perkara yang sia-sia dari apa saja yang sudah Tuhan Semesta Alam ciptakatan. Semuanya memiliki kadar dan nilai manfaat sendiri-sendiri yang sangat besar. Bahkan, saking banyaknya dan besarnya manfaat dari ciptaan Tuhan. Tidak ada yang mampu untuk mengkalkulasi dari seluruh anugerah-anugerah dan manfaat tersebut. Salah satu dari banyaknya karya yang Tuhan ciptakan dan memiliki nilai manfaat besar adalah alam.

Alam merupakan bentuk terindah dari karya Tuhan Sang Maha Pencipta. Alam menyuplai banyak keanunggerahan dan kemanfaatan yang sangat besar. Khususnya bagi makhluk hidup di seluruh jagad raya. Tidak terkecuali manusia. Alam sendiri diciptakan Tuhan juga sebagai tempat tinggal umat manusia. Tidak cukup itu saja, alam juga berperan untuk memenuhi apa yang manusia butuhkan. Alam menganggap kalau manusia adalah sebagian darinya. Itu makanya, kita semua diramut dan dirumat oleh alam, sebagaimana kita diramut oleh ibu sendiri. Mulai dari makan, minum, bersandang, dan segala macam kebutuhan kita. Alamlah yang mencukupinya.
Maka dari itu, pantas dikatakan jikalau alam adalah tulang punggung kehidupan manusia. Sebab, apa yang saat ini manusia rasakan semuanya sebagian besar bersumber dari alam. Alam memberikan lebih apa yang manusia butuhkan. Sekunder dan premier-nya kebutuhan manusia. Alamlah yang mencukupi. Itu sebabnya, rasa terimakasih saja tidak cukup untuk membalas dari kedermawanan dari alam.

Akan tetapi, apalah yang saat ini kita saksikan dengan seksama. Bukanya membalas dengan rasa belas kasih terhadap alam. Ataupun menjaga kelestarian dari alam. Justru sebaliknya, manusia semakin keji menggarap alam. Alam yang seharusnya kita jaga, kita ramut, dan kita rumat kelestariannya. Malah tak jarang dari kita sendiri menodai dan melucutinya dengan- perilaku yang sangat keji sebagai imbal baliknya terhadap alam. Padahal, jika tidak ada alam, maka kemungkinan besar kita juga mustahil untuk bertahan hidup.

Seperti yang sudah saya katakan diatas tadi. Salah satu muatan alam yang merasakan kekejian manusia dan kita sendiri tentunya, terhadap alam adalah sungai. Sungai adalah salah satu korban dari kekejian manusia menggarap alam. Sekarang kita bisa melihatnya sendiri, bagaimana keadaan disepanjang aliran atau sepanjang lingkungan sungai saat ini. Sungguh menyita perhatian dari banyak pihak. Tentu anda akan mendefinisikan bagaimana keadaan suangai saat ini. Sungguh memperihatinkan bukan?

Di sebagian besar wilayah kita. Kita bisa menyaksikan secara langsung, bagaimana sampah-sampah berjejalan dan berserakan disekitar wilayah sungai. Bahkan tidak hanya sampah saja. Limbah-limbah dari keseharian aktivitas masyarat dan limbah-limbah industri juga turut ikut menyumbang akan berlasungnya tercemarnya sungai. Hingga air yang dulunya putih murni, kini menjadi semu hitam tidak alami. Dulu yang baunya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, sekarang menjadi busuk dan tidak sedap bila tercium oleh indera.

Tentunya, itu semua adalah kecerobohan dan moralitas bobrok dari sebagian masyarakat yang secara sengaja atau tidak sengaja sehingga membuat lingkungan sungai terancam dan tercemari. Seperti rutinitas membuang sampah kedalam sungai, rutinitas membuang sisa-sisa limbah rumah tangga dan industri kedalam sungai dan masih banyak lagi rutinitas-rutinitas buruk lain, yang menyebabkan sungai semakin tercemar.

Dan jika sungai sudah tercemari, maka tidak kemungkinan kalau fungsional dari sungai menjadi mangkrak tidak terpakai. Sebagia contoh air sungai yang tadinya bagi sebagian masyarakat berfungsi sebagai kebutuhan sehari-hari, semisal untuk mandi dan mencuci. Akan tetapi jika sungai tersebut sudah tercemari, dan airnya saja sudah berubah baik disitu bau, warna, dan rasanya dari asal mula kejadian ke-alamian-nya. Maka, kemungkinan besar yang terjadi adalah kemangkrakan atau tida fungsinya kembali air dari sungai. Yang dulunya sungai itu multi fungi, kini bisa saja sungai itu menjadi mati fungsi. Kalau kecerobohan dan moralitas bobrok ini tidak segera disikapi dan ditanggulangi.

Sudah jelas, dari pemerintah sendiri juga mengeluarkan undang-undang untuk mengatasi pencemara dan wujud dari aspirasi pelestarian lingkungan. Dan tak terkecualikan sungai. Akan tetapi sudah sejak dari dulu, seakan-akan undang-ndang pemerintah itu tidak diterapkan dalam konteks kenyataan hidup.
Sebab dari tidak ter-aplikasikanya undang-undang dalam ranah kehidupan nyata, ternyata difaktori dengan tingkat kesadaran dari kita semua. Maka dari itu, bagi siapa saja yang memegang dan membaca surat ini. Entah disitu miskin dan kaya, baik tua atau muda. Dan terkhususnya untuk pembuang sampah, pembuang limbah disungai. Saya berharap sekali untuk sejenak tafakkur. Betapa besar kemanfaatan alam yang sudah kita semua sia-siakan. Betapa besar keanunggerahan alam yang sudah kita telanjangi dan kita balas dengan perilaku yang keji. Khususnya keadaan sungai yang saat ini semakin memperihatinkan.

Bapak, ibu, dan saudara/saudariku sekalian serta pembaca yang budiman. Tolong, anggaplah kelestarian sungai adalah sebagian dari kita semua. Sebab, dalam ketidak sadaran kita. Sungai sudah menganggap kita semua sebagian darinya. Itu sebabnya sungai memberikan apa yang mereka butuhkan dari sebagian saudara-saudara kita. Sama juga dengan alam. Alam juga sudah menganggap kalau kita adalah sebagian darinya. Dan itu sebabnya, alam memberikan lebih dari yang kita butuhkan.

Maka dari itu, kita juga beranggapan sedemikian rupa dengan alam. Menganggap kalau kelestariannya adalah sebagian dari kita semua. Coba pikirkan, siapa lagi yang mampu melestariakan alam kalau tidak kita semua. Hewan, mana mungkin Maka dari itu kita semua-diciptakan tuhan dengan kelebihan mempunyai nalar, akal, dan pikiran. Dan salah satu kegunaan dari nalar kita, pikiran kita, akal kita, adalah untuk menjaga dan melestarikan alam yang telah Tuhan ciptakan.

Tak terkecuali sungai. Meskipun kekayaan alam dari sungai tidak seberapa banyak yang dihasilkan daripada kekayaan laut. Akan tetapi tetap anggaplah kelestarian sungai sebagian dari kita semua. Sebab, tanpa kita sadari, Sungai juga menolong saudara kita yang masih berpangku tangan kepadanya. Kasihanilah sungai. Ramut dan rumatlah karya Tuhan yang satu ini. Meskipun engkau menganggap kalau sungai itu tidak menguntungkan, akan tetapi kita semua masih mempunyai kewajiban untuk melestarikannya.
Kelestarian sungai juga akan menolong anak cucu kita semua dimasa akan datang. Mereka akan senyum bahagia melihat leluhurnya mempertahankan kearifan lokal. Sebagai, warisan dari kita semua. Jadi mereka masih bisa bermain dan mandi disungai, sebagaimana yang kita lakukan dahulu kala. Jadi sekali lagi saya minta, buanglah sampahmu pada tempatnya. Olahlah kembali limbahmu menjadi hal yang bermanfaat dan berharga. Dan lestarikanlah sungaiku untuk kita semua saat ini. Dan di masa yang akan datang, untuk anak cucu pewaris kearifna lokal ini.

Sebagi hidangan penutup, saya sarankan untuk seluruh masyarakat dan pemerintah untuk saling berkerja sama untuk mewujudkan kelestarian alam. Sungai khususnya. Mari bersama-sama kita ulurkan tangan dan saling bahu-membahu demi kelestarian alam. Tanpa adanya kerja sama, tentunya berat sekali untuk mewujudkan apa yang saat ini kita inginkan.

Untuk pemerintah, saya usulkan mengadakan penyuluhan dan bakti sosial, dan pengawasan, sebagai jalan untuk meningkatkan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat yang masih minim sekali. Kelestarian sungai juga ada ditangan anda semua. Maka dari itu, rangkullah masyarakat untuk lebih sadar lagi dalam melestarikan sungai.

Dan untuk semuanya. Anggaplah kelestarian sungai adalah sebagian dari kita semua. Sebab, alam sudah menganggap kita semua adalah sebagian darinya. Maka dari itu meramut, merumat dan menjaga kelestarian sungai adalah kewajiban kita semua. Sebagaimana kita semua telah dirumat dan diramut oleh alam. Atas segalanya apa yang telah alam berikan kepada kita.

Apa hubungannya alam dengan sungai, sehingga kita semua harus menganggap kelestarian sungai sebagian dari kita semua? Sebab, sungai adalah macam-macam dari beberapa karya Sang Pencipta yang dimuat oleh alam. Maka dari itu kita boleh saja menganggap kalau sungai adalah alam. Dan alam adalah karya Tuhan sang Maha Esa. Maka dari itu sebagai bentuk wujud syukur kita kepada Tuhan. Kita juga harus menganggap kelestarian alam, khususnya sungai sebagian dari kita.

Pula sudah jelas, apa balasan Tuhan yang Maha Esa kepada kita. Kalau kita enggan bersyukur kepada-Nya.[]

Tulis Komentar