Beranda zona santri Tali Penyambung Antara Ngopi dan Ngaji bagi Santri

Tali Penyambung Antara Ngopi dan Ngaji bagi Santri

Santri Ngopi

Bagi kalangan pesantren, minuman yang satu ini tentu sudah tidak asing lagi. Si hitam yang selalu menghiasi setiap saat santri berada, bukan hanya di kantin atau warung kopi, akan tetapi di setiap sudut pondok. Juga di setiap majelis, mulai dari majelis cangkruk sampai mejelis ilmu.

Ya, karena sangat identiknya kopi dengan santri, sampai ada sebuah peribahasa yang populer di kalangan santri yakni: “Yo ngaji, yo ngopi”.

Dua istilah yang tidak berlebihan jika dilihat dari sisi historis keduanya, karena memang, santri sudah identik dengan satu pekerjaannya yakni ngaji. Akan tetapi, mengapa kok dimudhofkan dengan ngopi?.

Sebagaimana kita ketahui, ngaji adalah suatu kegiatan yang mana di dalamnya terdapat seorang yang mengajarkan ilmu agama (muallim) kepada orang lain yang disebut santri.

Selain itu, ada juga pengertian bahwasanya ngaji adalah kegiatan membaca ayat suci al-Quran.

Pengertian ini yang lebih populer di kalangan masyarakat umum. Adapun dalam realitanya, ngaji tidak terbatas hanya dalam hal-hal yang telah disebutkan tadi, akan tetapi lebih spesifik pada suatu proses pembelajaran ilmu agama

Islam secara umum, baik dengan belajar bersama guru, atau sekedar membaca seperti belajar sendiri dan mengulang pembelajaran yang telah diajarkan oleh guru di dalam kelas (mutholaah).

Sedangkan ngopi berarti tradisi meminum kopi. Menilik dari cara, tempat, tujuan dan manfaat yang di dapat dalam ngopi itu sendiri, terdapat banyak pengertian dari istilah ‘ngopi.

Meski kebanyakan dari kita ngopi dengan tujuan untuk menjadikannya hiburan dengan diselingi dengan kegiatan cangkruk bersama teman-teman.

Selain fungsi utamanya sebagai penghilang rasa kantuk, ternyata kopi juga dapat menyebabkan pikiran yang tadinya sumpek karena lelah dengan kegiatan sehari-hari menjadi fresh kembali setelah meminum kopi.

Selain itu, menurut survey, ternyata kopi juga dapat membuka jalan pemikiran kita sehingga didalam kegiatan ngopi tersebut, tak jarang pelaku ngopi mendapat gagasan ataupun inspirasi baru.

Dari sudut pesantren sendiri, adat istiadat ngopi memang sudah mengakar sejak lama. Karena manfaat serta seluk beluk dalam ngopi sendiri memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan.

Begitu juga di kalangan santri. Ngopi seringali identik dengan adat istiadat khas di dunia pesantren yang tak terlepaskan dengan kegiatan keagamaan yakni ngurip-ngurip bengi (qiyam al-lail).

Dari keindetikan itulah, banyak pendapat yang mengatakan bahwasanya ngopi dan ngaji adalah budaya yang tak bisa terpisahkan dari dunia santri.

Karena kehadiran kopi sangat dibutuhkan untuk menjalani aktivitas tersebut yang mana dalam pelaksanaan qiyam al-lail, kita harus terjaga dari kantuk.

Hingga disebutkan dalam beberapa literatur sejarah, pada zaman dahulu, para abid (orang ahli ibadah) menjadikan kopi sebagai teman untuk beribadah malam.

Dan pada zaman itu pula, masyhur sebuah jargon: “Barangsiapa di dalam perutnya terdapat cairan kopi, maka dia akan masuk surga,” karena saking terkenalnya kopi sebagai minuman khas bagi para abid.

Sejalan dengan bergulirnya waktu, tradisi ngopi di kalangan salaf pun terus berevolusi. Hingga hari ini, banyak kita temui di kalangan kita (santri) yang mengambil manfaat dari ngopi baik dalam segi positif maupun dari segi negatif.

Contohnya di dalam segi positif, kita sering menemui santri yang memutholaah pelajaranya d di malam hari di samping membawa kitab di tanganya, di selbelah mereka juga terdapat kopi yang menemani.

Ada juga yang agak nyeleneh yakni santri yang ngopi di kantin, sering dari mereka beralasan bahwa tujuan ngopi adalah agar mereka melek ketika ngaji, musyawarah atau ketika sekolah.

Walaupun di dalam realitanya, banyak dari mereka yang bertujuan untuk refreshing, menyejukkan hati dan pikiran mereka yang jenuh dari segala problematika kehidupan pesantren Dalam segi negatif, kebanyakan dari santri menjadikan ngopi sebagai sarana untuk cangkruk yang mana dalam kegiatan tersebut sebenarnya sangat merugikan diri mereka sendiri.

Mengapa? Karena ketika seorang santri ngopi dengan tujuan cangkruk, dia telah membuang waktunya Sia-sia.

Karena tidak mungkin seseorang ngopi dengan cangkruk dalam rentan waktu yang sebentar.

Tidak hanya itu, mirisnya, kegiatan ngopi semacam ini juga kebanyakan telah menjadi agenda wajib bagi para santri yang mana efek negatifnya juga berakibat pada pemborosan terjadi uang Jajan yang terus menerus tanpa kita sadari.

Dari semua penjabaran di atas, kita bisa menarik benang kesimpulan bahwasanya, memang ngopi dengan ngaji/pesantren tak bisa terpisahkan.

Akan tetapi, akhir-akhir ini, banyak dari kita yang menyelewengkan hakikat ngopi di pesantren. Maka dari itu, alangkah baiknya jika kita dapat mengoreksi diri kita untuk menjadi lebih baik dari setitik noda yang mengotori hati kita yang kita lalaikan untuk melihatnya.

“tidak ada setetes kopi yang menyembunyikan rasa pahitnya”

Tulis Komentar