Beranda Curhat Terima Kasih, Jawa Pos Radar Tuban

Terima Kasih, Jawa Pos Radar Tuban

Lomba mewarnai

Sampai saat ini, saya masih meyakini bahwa kesempatan bisa saja tidak datang dua kali. Apalagi berkali-kali. Bahkan, untuk berulang dua kali pun rasanya sangat mustahil.

Saya juga yakin, dibalik kesempatan, ada satu hal unik. Dia tidak sembarangan datang kepada seseorang. Tetapi, dia hanya memilih kepada orang yang memang berhak mendapatkannya.

Kali ini, saya akan bercerita kepada anda. Bercerita tentang satu kesempatan berharga yang memang sangat saya butuhkan.

“Belajar bersama keluaraga Radar Tuban”

Guru Baru, Teman Baru. Radar Tuban

Saya termasuk produk gagal diangkatan 2016 (KPI), Fakultas Dakwah. Saya tidak diperbolehkan mengikuti PKL di tahun 2019 ini karena kesalahan saya sendiri.

Tak jadi masalah. Nyatanya, saya masih bisa masuk dalam peserta PKL di Radar Tuban. Meskipun ilegal, saya sangat antusias untuk beberapa alasan.

Oleh karenanya, pemimpin harus tahu. Jangan mentang-mentang jadi pemimpin, terus nggak ada rasa toleran, sok keren. Ada kata-kata jawa yang bunyinya begini “nek kepingin diuwongne wong, yo kudu nguwongno wong.”

Walaupun berilmu, titelnya setinggi gunung himalaya, kalau di masyarakat tidak punya jiwa sosial yang bagus dan rasa toleran. Saya yakin, di masyarakat, orang seperti itu tidak akan dibutuhkan. Bisa jadi akan diludahi oleh masyarakatnya sendiri.

Hari Pertama Masuk Kantor Radar Tuban

Hari pertama masuk kantor

Hari pertama masuk kantor, saya dan teman-teman langsung disambut dengan senyuman indah, lebih indah dari senyuman tetangga saya, namanya Mbak Indah.

Kami diberikan materi selama dua jam untuk memahami apa itu berita?. Bagaimana sebuah kejadian bisa dianggap layak untuk diberitakan.

Tantu, hal semacam itu sudah sering kami dengar di bangku perkuliahan. Namun, yang membedakan adalah pemateri. Seperti kata blogger terkenal Tuban. “kesuksesan sebuah media tidak akan luput dari kinerja pilotnya.”

Tak bisa diragukan lagi. Pimred Radar Tuban, Pak Ds (Dwi Setiawan), memang sangat profesional. Tidak hanya lincah saat memberikan materi, dia memang orang lapanagan yang sudah puluhan tahun menjadi wartawan. Dia sudah mendapatkan banyak sekali penghargaan.

Setelah dua jam pembekalan materi, saya diajak salah satu wartawan bagian kriminal untuk terjun ke lapangan. Yudha Satria, sapaan akrabnya.

Wartawan amatiran
Kasus kilang minya, menjadi wartawan amatiran

Ini adalah pengalaman pertama kalinya menjadi wartawan amatiran. Bayangkan, baru pertama kali magang. Langsung terjun ke lapangan, berhadapan langsung dengan ratusan polisi, ratusan warga, juga satpol PP.

Tiga minggu telah berjalan. Kami mendapat banyak sekali pengalaman. Baik pengalaman mental, pengalaman jurnalis, juga pengalaman kelincahan.

Dulu, saya pernah berpikir. “Ah, ngapain jadi wartawan. Sudah nggak keren, ngalor ngidul iya.” Ternyata, sekarang saya malah kecanduan. Saya bisa merasakan kenikmatan saat bersama mereka, berhadapan dengan tokoh-tokoh Kabupaten, juga para pejabat.

Satu hal lagi yang paling mengesankan, ketika kita ditanya “Mas, dari mana?” terus kita jawab, “dari Radar Tuban.” “Oh, silahkan. Silahkan masuk mas.” mereka akan mempersilahkan dngan senang hati jika kami membawa nama Radar Tuban, di mana pun itu, ke tempat apa pun.

Walaupun tidak semua wartawan memiliki kredibilitas. Tetapi, itu tidak berlaku untuk wartawan Jawa Pos, termasuk wartawan Radar Tuban. Sudah tahu koran Jawa Pos, kan?. Koran yang sudah malang melintang di jakat timur jawa. Wartawannya pun sudah memiliki kepercayaan tinggi. Bukan wartawan asal-asalan yang suka memakelari di berbagai macam perusahaan.

Tentu, ini menjadikan kami lebih bersemangat saat terjun ke lapangan. Apalagi, wartawan Radar Tuban sudah sangat profesional, sudah berpengalaman, senior, dan memiliki rasa peduli yang tinggi.

Bisa nimbrung dan belajar bersama mereka adalah satu kesempatan yang paling mengesankan. Ini hanya akan terjadi satu kali dalam dunia perkuliahan. Bagi saya, ini merupakan kesempatan yang luar biasa.

Bangga, Tulisan Kami Terbit di Koran Harian Jawa Pos Radar Tuban

Tulisan Kami Terbit di Koran Harian Jawa Pos Radar Tuban

Tak hanya memberikan materi dan arahan, Pak Ds sangat  totalitas. Dia juga mengajarkan teknik menulis berita, juga kesempatan kepada kami untuk menulis sebuah berita. Kemudian diterbitkan di Radar Tuban.

Bahkan, kami sudah dua kali menggegerkan jagat media di Tuban, setelah kami menulis berita kemiskinan yang dikemas dalam bentuk feature. Berita tersebut tak lama menjadi viral. Saya pun sempat didatangi perangkat desa setelah berita tersebut terbit.

Ini pengalaman mengerikan pertama kalinya. Didatangi perangkat desa saya sendiri. Untungnya, Pak Ds selalu memberikan suport dan semangat kepada kami. “Hal seperti itu sudah biasa, Mas. Sebenarnya pihak desa sudah tahu kalau ada salah satu masyarakatnya yang miskin. Untuk membuatnya bertindak, jalan satu-satunya yaitu kita harus menyentilnya melalui tulisan di media.” Katanya, sambil ngobrol serius.

Terima kasih, Bapak Dwi. Salam hangat dari kami.

Ngopi, Bareng Wartawan Radar Tuban

Ngopi bareng wartawan
Zakki Tamami, Wartawan senior Radar Tuban

Saat istirahat, kami menyempatkan ngopi di warung lesehan dekat kantor. Walaupun nggak sering, kami sudah sangat senang karena merasa disayang dan dipedulikan.

Wartawan senior yang satu ini sangat cool, keren abis!, juga gokil. Kata orang jawa, “meneng-meneng nylentem.” Dia adalah Zakki Tamami, seorang santri, juga wartawan ganteng di Radar Tuban.

Ikut Berpartisipasi Lomba Mewarnai Jawa Pos Radar Tuban

Lomba mewarnai
Pendapa Kabupaten Tuban

Bayangkan, anak kecil yang baru kemarin sore diikutsertakan dalam acara penting oleh tim Radar Tuban. Acaranya Lomba mewarnai yang didukung oleh PEMKAB Tuban, Semen Gresik Indonesia, Bank Jatim, dan ada beberapa lagi yang saya tidak mengingatnya. Kami diberikan kesempatan.

Ada yang diberikan tugas fotografi, administrasi, do’a, termasuk saya, vidiografi.

Bukankah ini warbyasah?

Bisa berfoto ceria bersama Direktur utama Jawa Pos Radar Bojonegoro adalah hal mengesankan lagi bagi kami. Pasalnya, mereka sangat pantas untuk dibanggakan.

Direktur Radar Bojonegoro
Foto bersama Direktur utama Radar Bojonegoro setelah penutupan Lomba Mewarnai Jawa Pos Radar Tuban

Terima kasih, team work Radar Bojonegoro, Radar Tuban.

Detik-detik Pembubaran

Detik detik pembubaran

Sedih bukan kepalang. Satu bulan, kami merasa sangat kurang. Kurang menguras ilmu wartawan, kurang bersama mereka.

Serba kurang

Meskipun fisik lelah, hati kami tak pernah lelah. Inilah passion kami, ingin menjadi jurnalis handal seperti mereka.

Malam Penutupan

Malam Penutupan 1

Rasanya baru kemarin, kami masuk kantor Jawa Pos Radar Tuban. Secepat inikah perpisahan?. Malam 02/12/2019 ini adalah malam penutupan peserta magang di Radar Tuban. Juga malam pembubaran panitia lomba mewarnai Jawa Pos Radar Tuban.

Bagi kami, ini adalah sesuatu yang tak mungkin bisa dilupakan. Canda tawa mereka, perhatian mereka, curhatan mereka, sorot mata dan kasih sayang mereka.

Itu, tidak mudah untuk dilupakan.

Mereka sungguh luar biasa.

Terima kasih Jawa Pos Radar Tuban. Semoga Tuhan tetap melimpahkan rahmat serta hidayahnya kepada kita semua. Salam hangat selalu, dari kami, KPI 2019.

Tulis Komentar