Rokok: Penyebab Terusirnya Adam Dari Surga

  • Whatsapp
Terusirnya nabi adam

Berpagi-pagi Tuhan telah menginformasikan bahwa Dia akan menciptakan manusia untuk menempati bumi. Namun sebagaimana Dia mengajarkan proses dan melarang grusa-grusu, Dia pun melakukan proses. Adam yang diyakini banyak orang sebagai manusia pertama diciptakan melalui proses. Ia diciptakan dengan Kun fa Yakūn (Lihat QS. Ali ‘Imrân 3: 59).

Bukan Kun fa Kāna. Bukan Sim Salabim Abra Kadabra. Bukan Ji Walang Kaji Kokok Beluk Dem Dem. Bukan. Redaksi yang digunakan adalah Yakūn, Fi’l Mudhāri’ yang di antaranya berindikasi pada sebuah proses.

Setelah Adam tercipta pun, Dia masih menghendaki proses. Seperti bayi yang baru lahir, ia harus diramut, diceboki, dipakaikan popok, disusui, baru kemudian disapih.

Karena membiarkan anak terus menyusu akan menyusahkan ibunya ketika sudah dewasa. Apalagi ketika sudah tumbuh kumis. Itu menggelikan sekali.

Itu pula yang terjadi pada Adam. Ketika ia lahir, ia ditempatkan di Surga, karena di sana Tuhan menyediakan babysitter-babysitter dari para malaikat.

Namun tidak bisa terus menerus Adam ‚disusui‛. Harus ada penyapihan. Lagi pula ia sudah dewasa, dan harus sesegera mungkin menempati tempat tinggal aslinya.

Bagaimana Adam keluar dari Surga?

Tuhan pun mengutus Iblis untuk menjalankan skenario-Nya. Sebelumnya, Adam beserta pasangannya telah diwanti-wanti untuk tidak mendekat pada satu pohon.

Iblis pun sukses menjalankan misi ini. Adam dan Hawa tergoda untuk mencicipi pohon itu. Karena itulah kemudian mereka dikeluarkan dari Surga ke tempat aslinya. Bumi.

Alquran maupun Hadits tidak menjelaskan apa nama pohon yang oleh Tuhan, Adam dan pasangannya dilarang dekat-dekat.

Memang, ada sebuah ayat yang menyebutnya dengan ‚pohon khuldi‛. Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya dengan berkata, ‘Wahai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon Khuldi dan kerajaan yang tidak akan pernah binasa?’ [QS. Thaha 20: 120]

Namun itu adalah penamaan dari setan untuk mengelabuhi Adam dan pasangannya. Syajaratul Khuldi berarti pohon keabadian. Para setan itu menjerumuskan Adam dan Hawa dengan mengiming-imingi keabadian.

Baca ini juga: Sejak Kapan Menikah Muda Menjadi Trend?

Adam dan istrinya tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran, mereka pun mengangguk-angguk. Lalu Setan mengajarkan bagaimana cara menikmati pohon itu. Tidak ada riwayat yang jelas, namun agaknya, pohon itu diambil dedaunannya, lalu digelinting dan dibakar pada ujungnya. Baru kemudian dapat dinikmati dengan mengisapnya.

Bunda Hawa rupanya lebih agresif, habislah ia dua batang gelintiran daun pohon itu. Seketika itu menyembullah

buah dadanya. Sementara Adam masih ragu-ragu bahkan terbatuk-terbatuk karenanya. Hanya beberapa sedot ia mengisap, dan karena itu pula tumbuhlah jakun pada tenggorokannya.

Sementara ulama berpendapat bahwa pohon yang dimaksud ayat tersebut adalah pohon tembakau. Bahan utama rokok. Mungkin karena itu pula di antara Bahasa Arab rokok adalah Syijār, terambil dari akar kata yang sama dengan Syajarah.

Tentu saja ini hanya sebuah penafsiran, yang bisa benar dan bisa salah. Ulama-ulama pun berbeda pendapat tentang hukum rokok. Sebagian mereka kebanyakan dari ulama NU (Nahdhatul Ulama) – bukan saja membolehkan, tapi juga banyak mereka yang menjadi perokok. Dan sebagian lain melarangnya, baik dengan larangan ringan (makruh) maupun larangan berat (haram). Keduanya memiliki dalil yang sama-sama kuat baik dari Alquran maupun Hadits.

Dalam Agama ini telah dijelaskan apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang. Jika ada yang belum dijelaskan, kata Rasulullah saw., bukan karena kelalaian Tuhan, tapi karena anugerah-Nya.

Demikian, Wa Allāhu A’lam. []

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *