Home Curhat Tidak PD Untuk Menulis? Coba Baca Artikel ini

Tidak PD Untuk Menulis? Coba Baca Artikel ini

not confident

“Saya memiliki banyak cerita hebat dan masih melekat dalam kepala, namun apalah daya, saya tidak bisa melibatkanya dalam tulisan. Apakah kalian ada saran untukku? Jika ada silahkan beri saran saya.”

Selamat datang di blog kang santri | Kita semua pasti memiliki kisah-kisah dalam hidup ini. Namun, untuk mengeluarkanya menjadi sebuah tulisan adalah hal tersulit.

Untuk itu, menulis adalah bakat bagus ketika kita memiliki. Diluar sana, banyak penulis mencari nafkah dengan jumlah yang bisa dikatakan minimal.

Saya sendiri tidak tahu, apa yang menjadi sebab orang yang menulis itu sedikit? Barangkali budaya komunikasi lisan masih mendominasi dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, dari kalangan tingkat bawah sampai tingkat atas.

Banyak orang yang belum apa-apa dan belum pernah mencoba menulis sudah terlalu terburu-buru berkata bahwa “saya tidak bakat menulis”. “Saya tidak ada bakat untuk menulis.”

Benarkah menulis itu perlu bakat?. yang tentunya sudah dibawa sejak lahir? Ataukah itu hanya dugaan yang tidak berdasar? Kalau kita ingat-ingat, rasanya pendidikan di Indonesia kurang melatih siswanya untuk terbiasa menulis, atau untuk menyenangi menulis.

Mungkinkah sistem pendidikan kita menyebabkan siswa-siswa menjadi takut menulis, sehingga ketika diberi tugas menulis itu menjadi momok yang menakutkan? Ataukan dikarenakan dunia pekerjaan yang berkaitan dengan tulis-menulis itu hanya sedikit? Menariknya, di kalangan guru, dosen dan wartawan yang notabene pekerjaannya erat sekali dengan dunia tulis-menulis, menulis itu juga masih menjadi hantu yang cukup menggetarkan.

Sangat menarik suatu pendapat yang menyatakan bahwa menulis itu bukan bakat, tetapiĀ  kemampuan yang dibiasakan, diasah dan dilatih.

Artinya, menulis adalah ketrampilan yang perlu diasah sejak dini. Untuk bisa menulis, maka seseorang harus banyak membaca.

Jadi, membaca dan menulis itu ibarat dua sisi mata uang. Satu dengan yang lain tidak bisa dipisahkan.

Oleh karena itu, menulis itu merupakan keahlian yang dapat diperoleh dari belajar dan berlatih secara terus menerus.

Semua Orang Itu Punya Bakat Menulis

Saya yakin bahwa semua orang yang normal punya bakat menulis. Apa buktinya? Coba seseorang yang sedang jatuh cinta, tiba-tiba ia mampu merangkai tulisan yang indah bagi sang pujaan.

Orang yang lagi gundah, tiba-tiba saja mampu menuangkan uneg-unegnya dalam buku hariannya sampai berlembar-lembar.

OrangĀ  yang menemukan sesuatu yang luar biasa, tanpa perlu berpikir mampu mendeskripsikan apa yang dilihatnya.

Dengan adanya sarana facebook, blog, twitter WA, dll., buktinya tiba-tiba saja bisa menulis.

Buktinya Anda bisa memberi komentar-komentar di facebook dan media sosial lainnya, bisa berupa uneg-uneg, cacian, gosip, dll.

Meskipun mempunyai bakat yang sama dalam hal menulis, namun perkembangan setiap insan akan berbeda.

Ini bergantung juga pada lingkungan, dan juga minat dari seseorang. Jika lingkungan di sekitar itu didominasi oleh kegiatan tulis-menulis, maka besar kemungkinan potensi menulisnya akan berkembang.

Namun, jika lingkungannya tidak mendukung, maka bakat itu tidak akan berkembang. Lalu, diambil kesimpulan asal-asalan bahwa saya tidak punya bakat menulis.

Selain lingkungan, minat seseorang terhadap dunia tulis menulis juga akan mendorong seseorang untuk memunculkan bakat menulisnya.

Melalui minatlah, bakat menulis dapat dimunculkan ke permukaan. Tentu saja minat saja tidak cukup. Minat itu harus dibarengi oleh upaya yang kontinyu, seperti banyak membaca, banyak bertanya, berpikir, dan berlatih secara rutin dan tanpa mengenal lelah.

Perbanyak Latihan

Ya untuk bisa menulis kita harus berlatih secara berkesinambungan. Langkah awal yang bisa saya sarankan adalah banyak membaca tulisan yang menjadi minat kita.

Sambil membaca, maka kita dapat menyelami, mempelajari, meniru gaya tulisan banyak penulis.

Setelah kita pelajari banyak gaya tulisan, kita bisa saja meniru gaya tulisan seseorang.

Kita coba menuangkan sesuatu dengan gaya bahasa yang dipilih. Saya yakin, yang akan muncul itu nanti bukan gaya tulisan orang itu,tapi adalah gaya tulisan kita sendiri, meskipun tentu saja masih amat kasar. Tidak mengapa tentunya. Jangan putus asa.

Cobalah, pelajari lagi gaya tulisan berbagai penulis itu. Anda imajinasikan, Anda mengabungkan semua gaya tulisan itu dalam angan-angan, lalu cobalah menulis.

Saya yakin akan muncul gaya tulisan yang khas. Gaya tulisan Anda sendiri. Gaya tulisan ciptaan Anda sendiri.

Mungkin itu masih sangat buruk tidak apa. Latihlah terus, sehingga Anda akhirnya menemukan corak dan gaya menulis yang khas.

Gaya tulisan yang sudah muncul ini harus terus dirawat, dikembangkan, dipupuk secara berkesinambungan dengan cara terus berlatih menulis tanpa mengenal batas akhir.

Di awal-awal menulis, mungkin Anda masih malu-malu. Hanya menulis di buku catatan harian.

Tidak apa. Ada loh penulis yang menjadi penulis yang ngetop, tulisan yang dipublikasikan itu awalnya adalah coretan di buku hariannya.

Kalau sudah lebih pede, mulailah menulis di facebook, menulis komentar dan kalau perlu membuat blog sendiri. Isinya apa? Bisa macam-macam, asal yang bermanfaat dan berdampak positif bagi siapa saja.

Awalnya tidak usah berpikir apakah tuliannya berguna atau tidak. Yang penting Anda harus punya keyakinan, bahwa apapun yang Anda tulis pasti berguna.

Jika sudah pede menulis di blog dan apalagi ada yang memberi komentar, maka cobalah tulisan di blog itu diramu kembali dan dicoba dikirim ke media sosial atau media massa, seperti koran.

Tentu saja awalnya di koran lokal. Tidak dibayar juga tidak apa. Jika dimuat bukankah Anda semakin pede.

Jika belum dimuat teruslah berlatih sampai tulisan Anda dimuat di koran lokal. Begitu seterusnya Anda berlatih menulis.

Tidak semua yang menulis itu akan menjadi populer. Tidak mengapa. Yang penting tulisan Anda bermanfaat, meski hanya di tingkat daerah, atau bahkan hanya di tingkat sekitar.

Anda ingat ceritera Mukidi. Penulisnya sendiri tidak pernah membayangkan bahwa tulisannya itu seperti virus, yang dengan cepat menyebar dan digandrungi banyak orang di media sosial.

Sepertinya menulis itu bukan sekadar keterampilan biasa. Ia membutuhkan kreativitas, imajinasi, inovasi, motivasi dan juga hati.

Barangkali kalau menulis karya ilmiah, imajinasi itu tidak mendominasi tapi masih diperlukan juga.

Sebuah tulisan yang sebenarnya isinya biasa saja, bisa menjadi sebuah tulisan yang amat menarik ketika ditulis dengan sepenuh hati dan dibarengi dengan imajinasi yang tinggi.

Disinilah dibutuhkan keahlian merangkai kata yang sempurna. Kreativitas dibutuhkan untuk menghasilkan suatu karya yang berbeda, suatu karya yang inovatif, yang ditulis dengan cerdas, yang melibatkan otak dan hati.

Bisa Kecanduan Menulis

Bagi orang yang sudah terbiasa menulis, menulis itu ibarat candu. Jika tidak menulis malahan bisa sakit, dan akan sembuh jika menulis sesuatu yang bermanfaat.

Orang yang sudah sampai taraf ini, menulis itu telah menjadi kebutuhan, sehingga dimanapun, kapanpun ia akan selalu berusaha menulis sesuatu.

Sesibuk apapun ia akan mencari kesempatan untuk menulis sesuatu, meskipun itu hanya satu atau dua kalimat.

Tanpa disadari, menulis itu merupakan sustu proses mengkombinasikan kegiatan membuat sistematika pada proses berpikir, mencurahkan renungan, proses penjiwaan dan kesabaran, Akhir kata selamat menulis.

Tulis Komentar