Beranda Pendidikan Hasil Dijatah Dan Usaha Diperintah

Hasil Dijatah Dan Usaha Diperintah

Seriing sekali Kita mengeluh dengan sesuatu apa yang sudah kita kerjakan, namun hasilnya nihil dan tidak sesuai dengan keinginan hati.

Hingga rasa putus asapun mengoyak-ngoyak niat yang sudah ditata sejak awal di dalam hati.

Pada akhirnya, banyak sebagian dari kita yang memilih pilihan untuk berhenti di tempat, dan enggan melanjutkan perjalanan.

Memang, ada benarnya dan ada juga salahnya memilih keputusan yang sedemikian rupa.

Sebab Kita sendiri juga tidak tahu apa yang bakalan terjadi di depan. Apakah itu membuat Kita lebih baik atau justru membuat Kita semakin terpuruk. Hanya Tuhan yang tentu tahu.

Tapi, celah salah yang paling besar dan yang paling sering kita lakukan adalah mengeluh dan tidak terima dengan sebuah hasil.

Dari situ, jika kita terus-menerus mengeluh dan tidak terima. Maka putus asalah yang terjadi. Keadaan kadang kala juga semakin memuruk dan buruk.

Pikiran serta niat dan iman kepercayaan seseorang menjadi pondasi utama sebelum melakukan sebuah perkara untuk menghasilkan sesuatu ataupun usaha.

Adanya putus asa pada seseorang, kadang kala juga di sebabkan niat serta tekadnya yang masih empuk dan belum ulet.

Namun juga ada faktor-faktor ain yang menyebabkan seseorang harus berhenti dengan segengam rasa putus asa dan menyesali segudang hasil yang ia terima.

Pepatah mengatakan kalau “usaha tidak akan menghianati hasil”

Memang, pepatah sedemikian sangatlah benar sekali. Sebab, seberapapun hasil yang kita peroleh, ya itulah ganjaran dari Kita berusaha.

Tetapi, tidak sesuai dengan keinginan lagilah yang menyebabkan seseorang tidak menerima sebuah hasil. Dan menyesali usahanya sendiri.

Jika di pikir-pikir kembali, hal sedemikian rupa sangatlah buruk dan lucu.

Lha, tidak lucu bagaimana ? Wong, yang mengerjakan usaha itu, diri seseorang sendiri. Kok menyesali usahanya sendiri. Kan sangat tidak masuk akal?

Maksudnya, Dia yang mengerjakan, Dia yang berusaha. Nah, setelah menerima hasil yang tidak sesuai keinginan, ia menyesali pekerjaannya sendiri, usahanya sendiri? Coba, pikirkan lucu atau tidak? Hehehe.

Seharusnya, tidak usahlah menyesali pekerjaan yang Kita lakukan, dan menerima sebuah hasil yang disitu tidak sesuai ke inginan di dalam angan-angan.

Sebab, usaha dan hasil itu sejujurnya berbeda. Namun masih dalam satu kaitan.

Mengerjakan sesuatu, untuk tujuan untuk meraih apa yang dituju dengan dasar niat dan tekat itulah usaha.

Keuletan dan tidak gampang putus asa merupakan bangunan kedua setelah kita benar-benar niat tulus dari dalam hati. Juga tekat kita, keyakinan kita yang kebal dan tebal. -Ringkasnya itulah usaha-

Sedangkan usaha sendiri merupakan perkara yang diperintahkan oleh sang Esa. Oleh sebab itu, Kita harus berusaha.

-Allah tidak akan merubah suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya- Kurang lebihnya begitu bahasa lagit mengajak Kita berfikir untuk berusaha.

Akal dangkal akan berfikiran bagaimana kita berubah, wong semua itu kersane Alloh.

Memang benar semua itu kehendak tuhan. Maksud dari ayat yang mengatakan “kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya” Yang menjadi garis besar. Dan itupun, menyinggung Kita untuk bergerak. Melakukan sesuatu hal, untuk sebuah perubahan. Yang sering juga dikatakan usaha.

Tapi bagaimana jika Kita sudah bergerak dan melakukan sebuah hal untuk suatu hal lain atau hasil. Tapi tidak sesuai dengan angan-angan?

Jawabanya, ya begitulah hidup. Angan-angan dan keinginan hanyalah gambaran semu, rekayasa manusia semata.

Namun, kenyataanlah yang sebenarnya benar. Dan yang bisa menyatakan sebuah kenyataan, hanyalah Tuhan yang tidak bisa kita lihat dengan kedua mata dohir kita.

Maka dari itu, usaha itu merupakan suatu perintah. Ya, memang begitulah perintah Tuhan. Dan tidak dapat di demo. Jika demo atau protes. Ya, protes saja sama DIA yang Maha Tahu. Saya mono tidak tahu apa-apa. Tahuku saja karena-Nya.

Sedangkan hasil itu sudah di jatah. Di pastikan oleh-Nya. Di tulis oleh-Nya. Di jatuhkan kepadamu, di berikan kepadamu ya segitu. Tidak dikurangi sedikitpun dari sana. Yaitulah buah usahamu. Ya segitulah hasilmu. Jangan protes lagi.

Lha, Masih protes lagi. Malah-malah Kamu mengira. “Oh ini di korupsi oleh malaikat penyampai rejeki” “Seharusnya ini tidak segini, ini seharusnya segini. Pasti ini dikorup oleh si Malaikat penyampai rejeki” 

Ghundulmu i dikorupsi.

Sudahlah, terima saja hasilnya apa, seberapa, dan bagaimana. Jika masih kurang, tinggal usaha lagi kok. Gitu aja repot. Entar paham-paham sendiri kalau memang jatahmu itu segitu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here