Ya Solihatun, Iqro’ Hadha!

  • Whatsapp

Hai, , Solikhah. Kamu harus baca tulisan ini, bisakah kamu mingingat? kapan aku mulai tersayat? dan kapan aku mulai menaruh lebih dari 80% hati ini. Tahukah kamu?, aku sungguh menyayangimu. Bukan tanpa alasan. Aku sangat punya alasan untuk itu.

Tapi mengertilah! bukan karena egois yang setiap hari setiap kali menjadi setan diantara kita. Sering sekali kita saling menyalahkan satu sama lain. Kadang, aku juga tak mau disalahkan, dan tentunya kamu pasti juga tidak mau.

Bukan kamu yang salah, dan bukan juga aku yang selalu salah. Hanya saja, memang cinta yang masih belum berpihak kepada kita. Bukan kamu yang bodoh, dan aku yang mau dibilang bodoh. Hanya saja, cinta belum bisa menyatukan kita.

Sol, apa yang bisa aku lakukan selain cerita lewat chat?

Sol, apa yang bisa aku perbuat saat kamu jauh dari jasadku?

Sol, apa yang bisa aku perbuat saat masalah demi masalah menghampiri?

Hanya melalui jaringan internet aku bisa memandangimu, walaupun sebentar. Aku sudah merasa nyaman. Untuk masalah Keterlaluan ketika mengatur, lantas kamu bilang “baru pacaran saja sudah keterlaluan sok-sokAn ngatur-ngatur.”

Hei,,, Solikhah. Aku sadar, kenapa kamu nggak sadar?

Kalau aturan tersebut tidak ada manfaatnya untukmu, kenapa aku melakukanya?. Dan, sebaliknya. Kalau aturan itu membuatmu celaka kenapa aku harus melakukanya?.

Ini bukan keegoisan, namun rasa sadar akan dalamnya sebuah kasih dan sayang.

Saat ini, aku hanya bisa berdo’a. Karena, tidak mudah untuk menghapus semua kenangan itu, ngerti kan?

Kadang aku juga tertawa sendiri, kenapa aku masih munafik. Aku yang takut kehilanganmu. Namun aku berbicara seolah-olah tidak ada masalah.

Aku munafik, dan juga egois.

Tapi aku punya hati yang kuat untuk selalu mencintaimu, menyayangimu. Jangan bilang sayang tai, karena ini belum saatnya kita dipersatukan.

Lebay atau tidaknya tulisan ini. Tergantung kesimpulanmu. Yang jelas, aku sangat merindukanmu. (Solikhatun).

Maafkan aku, air mataku hanya bisa menetes denganmu. Maafkan aku. Kamu bisa melihat tulisan ini kapanpun kamu mau, dan ketika aku sudah kembali kesana, aku harap tulisan ini tidak sirna.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *